Batik, Pendekatan Fungsi, Makna dan Ekonomi

Setelah dalam tulisan yang lalu, saya membahas mengenai Batik, Kerajinan Tangan, Seni Kerajinan Tangan atau Kriya. Fokus pembahasan sudah sampai pada batik dalam pendekatan Fungsi. Maka dalam tulisan lanjutan ini, saya akan membahasnya batik dalam pendekatan makna dan pendekatan ekonomi.

Dalam tulisan sebelumnya kemampuan Pembatik dalam melihat batik sangat tergantung dari beberapa pengalamannya, diantaranya adalah pengalaman estetis, pengalaman kreatif, pengalaman intuitif, pengalaman simbolik dan pengalaman empiris. Ketika semua fase tersebut telah dilaluinya dengan matang. Maka Pembatik akan memilih dan menentukan sikap realistisnya. Pembatik memilih jalan (thareqat) untuk sampai pada batiknya.

Bila mengambil istilah dari Pak Sapuan yang disampaikan pada WAG Falsafah Batik, beliau mengatakan “Ada perbedaan yang cukup jauh dan mendalam antara PENGAMAT dan PELAKU/PESALIK.”  Kalau kita bahas istilah Pesalik yang biasa dilakukan oleh kaum tarekat (Thoriqot), maka kita akan menemukan istilah Tanazul Taraqi.

Mari kita lihat apa itu Tanazul Taraqi? Tanazul Taraqi berkaitan dengan kepribadian. Kepribadian yang pasti melekat erat pada seorang Pesalik yang sedang dalam mendalami atau menjalani jalan ke-Ilahian-nya. Tanazul berarti keadaan seseorang yang sedang dalam limpahan sifat-sifat keilahian yang layak bagi dirinya, sehingga sifat-sifat ilahi itu diamalkannya dalam tindakan dan pergaulan. Sedangkan Taraqi berarti keadaan seseorang yang sedang melepaskan sifat-sifat jahat dari dirinya untuk naik ke sifat-sifat ilahi yang mulia, sehingga dalam kehidupannya dia tidak lagi selalu berbuat salah/maksiat.

Kalau kita terjemahkan atau diaplikasikan pada seseorang yang sedang mencari jati diri dengan melakukan jalan penemuan batiknya. Maka dapat diartikan bagi seseorang pembatik/pelaku/pesalik batik ketika sedang pada kondisi Taraqi adalah seseorang yang sedang melepaskan dirinya dari melakukan plagiat atau peniruan terhadap motif-motif batik yang telah menjadi milik seseorang atau juga yang telah menjadi publik domain, beralih kepada pencarian utuh, untuk menemukan sesuatu yang asli (originality) dari apa yang dipelajari sebelumnya dan kini. Ini merupakan kepribadian yang sangat luar biasa dan tidak semua orang akan dapat menjalaninya tanpa adanya bimbingan atau seorang guru yang biasanya dalam tareqat disebut dengan mursyid (seseorang yang ahli dalam memberi tunjuk-ajar terutama dalam bidang spiritual, dalam istilah para sufi). Mursyid (menurut kaum sufi) adalah mereka yang bertanggung jawab memimpin murid dan membimbing perjalanan rohani murid untuk sampai kepada Allah s.w.t., dalam proses tarbiah yang teratur, dalam bentuk tarekat sufiyah.

Dalam dunia batikpun sangat mengenal dengan bimbingan seperti ini. Seorang guru batik, empu batik atau maestro batik, akan memberikan bimbingan yang intens kepada muridnya dengan cara mentransformasikan sebagian dari kemampuan diri sang maestro, berikut dengan ijazah batik dari sang maestro batik tersebut. Istilah Ijazah juga diambil dari kebiasaan santri atau murid yang mendapat restu ilmu dari gurunya. Pada awalnya Ijazah diartikan sebagai sesuatu amalan yang diberikan mulai dari Nabi Muhammad kepada sahabat, sahabat kepada tabi’in, tabi’in kepada tabi’it tabi’in sampai kepada para ulama, kiai dan para guru kita semua.

[08:21, 09/02/2021] Bapak Komar: Adapun istilah Taraqi yang dialami oleh para Pesalik batik dapat diartikan sebagai upaya melepas pengalaman pribadi yang berkaitan dengan hal teknis atau pengetahuan sebelumnya yang dianggap gagal, kemudian mencari pengalaman dan teknik baru yang diajarkan oleh gurunya, sehingga mencapai sesuatu ilmu batik yang lebih baik dan lebih memiliki daya guna.

Kita masih melihat kondisi para pembatik khususnya di luar pulau Jawa, dalam mengerjakan batik masih terdapat banyak kekurangan. Kekurangan dalam hal-hal teknis maupun dalam hal pemahaman esensi batik yang menjadi kekuatan luhur dari batik itu sendiri.

Akhirnya kita ketemu dengan istilah esensi batik. Apa sih sesungguhnya esensi batik tersebut?

Kita mulai dari kata esensi yang diartikan sebagai inti, hakekat atau hal yang pokok.

Mengenai esensi dari batik, bisa didekati dari definisi batik itu sendiri. APPBI (Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia) pada tanggal 9-10 Januari 2019 di Pekalongan melakukan pertemuan untuk membahas mengenai redefinsi batik. Ijinkan saya muat dalam tulisan ini tentang siapa saja yang mengungkapkan definis batik dengan ungkapannya masing-masing.

  • Batik adalah perlunya peran tuhan dan berkat rahmat Allah. Batik adalah fadhilah, maonah, karomah. Estetika pada tiap-tiap kerajinan berbeda. Estetika batik sangat berbeda. (H. Dudung Moh. Romadhan)
  • Batik adalah proses dan tak benda. Sehingga dia berhak menempel pada sesuatu yang bisa menerimanya. (Ir. H. Wirasno)
  • Batik adalah pembuatan ragam hias dengan teknik perintang warna dengan malam. (Dra. Hj.Putu Sulistiani Apt.).
  • Batik tradisional harus mencakup:
  • Memiliki 2 aspek, aspek pembuatan dan penggunaan.
  • Memiliki ragam hias yang memiliki makna simbolik.
  • Dibuat menggunakan canting, cap dan bahan baku malam (kain panjang di Solo dan Jogja), Sosial custom. Batik dibuat dengan keahlian craftmenship. (Zahir Widadi SS. M.Hum).
  • Batik tradisional harus mencakup:
  • Memiliki 2 aspek, aspek pembuatan dan penggunaan.
  • Memiliki ragam hias yang memiliki makna simbolik.
  • Dibuat menggunakan canting, cap dan bahan baku malam (kain panjang di Solo dan Jogja). (Drs. Sapuan). 

•    Batik mencerdaskan kehidupan bangsa. Batik asli adalah teknik rintang warna dengan menggunakan lilin panas. (H. M. Romi Oktabirawa).

•    Batik adalah kerajinan tangan yang berupa gambar yang diproses melalui alat membatik dengan menggunakan lilin panas. Batik dihasilkan dengan estetika. (H. Ahmat Failasuf, SE).

•    Batik digambarkan pada kain dengan lilin dan diproses sesuai kata hati. (H. Eko Suprihono, SE).

•    Batik adalah proses, teknik rintang warna menggunakan canting dan malam panas. (Budi Darmawan, SE).

•    Batik adalah cara bikin kain dengan proses rintang warna. (Agus Purwanto S.).

      Batik adalah seni kerajinan rakyat Indonesia yang sudah mendunia,   merupakan kebudayaan sebelum Hindu dan Budha masuk. Batik menembus waktu ruang dan zaman serta batik adalah kekuasaan, jati diri bangsa. Batik berasal dari kata tika (gambar sakral), sehingga batik adalah lukisan. ( Mayasari Sekarlaranti Ir.).

•    Batik adalah warisan leluhur seni Indonesia yang mempunyai nilai seni dan ekonomi. Batik adalah sehelai kain melalui proses toreh canting manual. (Hj. Siti Zunaiyah Budiarty).

•    Batik adalah proses pembuatan motif dengan canting lilin panas, dan merupakan kearifan lokal. (Yuli Astuti).

•  Batik ada makna dalam kehidupan. Batik ditorehkan melalui canting dengan malam panas. (Dra. Hj. Siti Maimona).

[08:21, 09/02/2021] Bapak Komar: Masih banyak lagi pengurus dan pendiri APPBI yang menyampaikan perihal definisi batik tersebut. Pada akhirnya APPBI berani mengambil kesimpulan yang berkaitan dengan Redefinsi Batik sebagai berikut:

Batik Tradisional adalah seni kerajinan luhur bangsa Indonesia berupa lembaran kain yang dikerjakan bersama-sama atau perorangan mengandung kearifan lokal dengan teknik rintang warna lilin panas menggunakan canting (canting tulis dan canting cap), memiliki nilai estetika, makna simbolik dan makna kehidupan, serta merupakan rahmat Allah yang menembus ruang, waktu dan jaman (Tim Perumus APPBI).

Adapun karakteristik yang terdapat dalam batik tradisional sbb:

  1. Rahmat Tuhan,
  2. Seni kerajinan tangan,
  3. Kain Panjang
  4. Menggunakan lilin panas sebagai perintang warna,
  5. Ragam hias mempunyai makna atau simbolisme
  6. Memiliki nilai estetis dan ekspresi seni,
  7. Identitas budaya daerah (kearifan lokal).

Dari penjelasan di atas, nampak jelas bahwa esensi batik b agi masyarakat Indonesia mengandung banyak unsur yang perlu diperhatikan dan sebagai pembeda dari produk-produk tekstil pada umumnya.

Jika masih ada yang akan menambahkan terhadap esensi batik yang telah diputuskan oleh APPBI, maka kami dengan senang hati untuk mendiskusikan bersama dan menyempurnakan bersama.

Masih menindaklanjuti apa yang disampaikan oleh Pak Sapuan, bahwa untuk menjembatani perbedaan itu, dibutuhkan seperangkat ilmu. Apa ilmunya?

Tentu saja disiplin ilmu batik (BATIKOLOGI).

Menyambung peristilahan Batikologi, maka saya teringat akan seseorang ahli yang memiliki kepedulian terhadap batik ini yaitu Prof. Mien Rifa’i dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI, Jakarta), yang telah menyusun tentang AD/ART dan diperlukannya Komunitas Batikologi Indonesia. Apa saja pemikiran dan persiapan yang telah dilakukannya?

Beliau telah menyususn nama dan kedudukan Batikologi : Organisasi profesi ilmiah ini bernama Komunitas Batikologi Indonesia (disingkat KBI) dan Sekretariatnya berkedudukan tetap di Surakarta.

•    Asas, Tujuan, dan Usaha

KBI berasaskan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.

KBI bertujuan memajukan batikologi Indonesia dengan jalan membina pengetahuan, ilmu, dan teknologi, serta meningkatkan kemampuan para peminatnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut KBI mengadakan 1) bermacam bentuk pertemuan ilmiah, 2) menerbitkan berkala ilmiah Batikologia, 3) menggalakkan kegiatan penelitian ilmiah, kajian kepanditan, dan penelaahan pengembangan batik, serta 4) menggalang hubungan kerja sama ilmiah nasional dan internasional.

•    Bentuk Organisasi

KBI merupakan suatu satuan organik mandiri yang terdiri atas himpunan para anggotanya dan dipimpin oleh sebuah Dewan Pengurus.

•    Keanggotaan

KBI mempunyai anggota biasa dan anggota perantau.

Anggota biasa adalah warga negara Indonesia yang aktif berkecimpung dalam kegiatan penelitian dan pengembangan serta pemanfaatan batik.

Anggota perantau adalah pakar dan peminat batikologi bukan warga negara Indonesia.

Keanggotaan KBI dapat diperoleh dengan cara mencalonkan diri atau dicalonkan oleh dua orang anggota untuk disetujui dan disahkan keanggotaannya oleh Rapat Anggota.

Keanggotaan KBI menjadi hilang karena seorang anggota meninggal dunia, berhenti atas permintaannya sendiri yang diajukan secara tertulis kepada Dewan Pengurus, atau karena diberhentikan oleh Rapat Anggota.

•    Hak dan Kewajiban Anggota

Anggota KBI berhak turut serta secara aktif dalam semua kegiatan yang diadakan oleh KBI, memberikan suara yang menentukan jalan organisasi perhimpunan dalam Rapat Anggota, mendukung pencalonan dan mencalonkan anggota, memilih dan dipillih menjadi Dewan Pengurus, serta menerima majalah Batikologia secara cuma-cuma

Semua  anggota Batikologi berkewajiban melakukan kegiatan-kegiatan untuk mengupayakan tercapainya tujuan KBI serta membayar iuran yang besarnya ditentukan oleh Dewan Pengurus.

Dan masih banyak lagi perangkat yang telah beliau tuliskan, namun tidak bisa saya tuliskan semuanya di naskah ini.

Melanjutkan dari apa yang telah disampaikan oleh Pak Sapuan, beliau menyampaikan dalam komunikasi di WAG Falsafah Batik sebagai berikut :

Pengetahuan (knowledge) tentang batik masih terserak pada para pelaku batik, yang masing-masing pelaku mempunyai pengalaman pribadi yang kadang sama atau ada keberbedaan. Dan menurut beliau bahwa hal demikian merupakan “sah sah saja”.

Beliau meneruskan dengan menyampaikan : maka, kita perlu NGASYAG pengetahuan dan pengalaman laku batik yg masih berserakan ada pada para Pesalik batik, untuk dikumpulkan dan disusun menjadi sebuah kumpulan pengetahun batik.

Kumpulan pengetahuan batik ini yg nanti menjadi BATIKOLOGI. Ruar biasa apa yang beliau sampaikan, dan ternyata sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Prof. Mien Rifa’i.

Sebenarnya masih ada lagi bahasan dari Pak Sapuan tentang Batik mengajarkan “Daur Hidup”, namun kita simpan dulu ya. Nanti kita bahas untuk tema berikutnya, sebab ini suatu tema batik yang juga sangat menarik untuk didiskusikan dan kita bahas bersama.

[08:21, 09/02/2021] Bapak Komar: Setelah kita membahas panjang lebar hal-hal yang berkaitan dengan Pesalik, Esensi Batik dan Batikologi, sekarang kita akan masuk pada pendekatan MAKNA pada batik.

Apa itu makna?

Makna bersifat intersubyektif karena ditumbuh-kembangkan secara individual, namun makna tersebut dihayati secara bersama, diterima, dan disetujui oleh masyarakat. Untuk menginterpretasikan secara komprehensif makna yang terjalin dalam berbagai jejaring hubungan sosial yang luas dan rumit. Geertz menyarankan untuk menempuh jalur hermeneutik dua arah yang meliputi ’’Paparan bentuk-bentuk simbolis tertentu…… sebagai ekspresi-ekspresi yang terdefinisikan; serta kontekstualisasi bentuk-bentuk tersebut dalam keseluruhan struktur pemaknaan (bentuk-bentuk simbolis) yang menjadi bagian di dalamnya, dan yang dalam pengertiannya mereka didefinisikan”. Dengan demikian, suatu sistem pemaknaan menjadi latar budaya yang terpadu bagi fenomena yang digambarkan (Santosa, 2000: 202-203).

Bila kita kaitkan dengan apa yang sering disebutkan oleh Pak Zahir Widadi pengurus APPBI (Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan). Kajian batik sering dikaitkan dengan ilmu filsafat dan Kajian hermeneutik, karena di dalam batik banyak mengandung unsur  teks yang berupa simbol-simbol. Dengan demikian bagi para Pesalik bila berharap ilmu batiknya makin lengkap hendaknya belajar pula tentang ilmu simiotik, yaitu ilmu tentang membaca tanda dan penanda.

Mari kita lanjutkan….

Seni batik termasuk pada fenomena sensoris yang mengandung makna implisit. Pemaknaan seni budaya (dalam hal ini kriya batik) tidak lepas dari wujud simbolnya, meskipun secara teoritik terpisah darinya.

Dalam kaitannya dengan taksonomi makna, C.K.Ogden and I.A.Richards, dalam The Meaning of Meaning, mengidentifikasikan setidaknya ada 23 “makna” dari kata “makna” (meaning). Ternyata begitu banyak sekali, dan rasanya kita tidak akan membhas dalam tulisan ini, karena ini terlalu ilmiah dan teoritik. Namun setidaknya untuk melengkapi tulisan ini, marilah kita ketahui sedikit saja.

Terdapat perbedaan mendasar dalam penggunaan konsep ’makna’ di dalam berbagai bidang keilmuan. Makna dalam konteks estetik berbeda dengan pengertian makna dalam konteks simbolik. Fenomenologi menggunakan kata makna dalam pengertian ’esensi’ atau ’hakikat’ sesuatu; psikoanalisis menggunakannya untuk menjelaskan ’kemauan’ dan ’hasrat’; estetika menggunakannya untuk menjelaskan tingkatan emosi tertentu yang terlibat di dalam sebuah karya; hermeneutika melihat makna sebagai produk dari tafsiran sebuah teks; simbolik berkaitan dengan relasi-relasi unik antara sebuah obyek dengan ’dunia’; dan semiotika menggunakan istilah makna untuk menjelaskan ’konsep’ (signified) di balik sebuah tanda (signifier) (Piliang, 2006: 71). 

Tepat sekali apa yang telah disampaikan oleh Pak Zahir, akhirnya untuk mengenali batik agar lebih dekat, maka ilmu Simiotika salah satu jalan yang dapat mewarnai dan mendalami Kriya Batik, Wastra adiluhung tradisi budaya bangsa Indonesia yang tidak lekang oleh jaman dan gtidak lapuk oleh perubahan iklim sekalipun. Batik akan senantiasa hadir di tengah-tengah kita, selama semua Pesalik dan Pecintanya mampu mempertahankan dan melestarikan marwah batik tradisional, kapanpun dan dimanapun bersama batik.

Sampai jumpa pada kelanjutan tulisan berikutnya masih pada pembahasan Batik dari Pendekatan Ekonomi.

Mohon tanggapanya ya… Maturnuwun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang di APPBI ada yang bisa kami bantu?

Salam Batik.
Budi Darmawan