TANYA JAWAB DNA BATIK

Oleh : Tim APPBI

Apa yang disampaikan mas Dudung, kalau kita bisa menelaah dengan baik, itu cukup apa yang kita rasakan kepada diri kita, kita bisa menanyakan kepada diri kita. apakah bakat, atau karakter, atau apa yang dilakukan dalam kita menjalankan usaha sesuai perilaku kita sebagai orang yang batiki istilahnya, Apakah kita sudah melakukan sampai ke situ atau belum. Jadi, tidak sekedar anda berbicara di mulut cinta batik, atau I love you batik. Tapi hati kita itu sudah batiki atau belum. Mungkin apa yang disampaikan Mas Dudung seperti itu.

Mas Sapuan: “Mas Dudung sudah menyinggung mengenai batik sebagai cahaya, kaitannya dengan teologi ketuhanan. Bagi saya, batik  salah satu jalan atau thoriqoh untuk bisa mengenal Tuhan. Ada 1 kata, yang nanti batik itu bisa menjadi salah satu jalan untuk menggabungkan ketiganya itu. Tapi berangkat dari akar kata yang sama sebetulnya. Jadi kalau kita berbicara, bisa disebut juga dengan yang namanya Khalik, kemudian kita sebagai manusia itu disebut makhluk, dan ada satu ayat Alquran yang mengatakan bahwa “tidak aku utus engkau Muhammad, kecuali untuk memperbaiki akhlak.” Jadi antara khalik, makhluk dan akhlak itu Tritunggal. Ini luar biasa, dan untuk bisa menggabungkan itu, menurut saya, batik itu bisa menjadi salah satu jalan untuk mengenal siapa siapa Tuhannya, siapa diri kita, dan bagaimana hubungan antara jagad gede dan jagad kecil itu bisa serasi, Selaras, dan seimbang. Jadi untuk saudara-saudara saya yang yang sudah masuk ke dalam dunia batik, atau belum, tidak perlu kita ragu untuk memasuki dunia batik sebagai salah satu jalan juga untuk mengenal Tuhan.

Kembali lagi kepada Mas sapuan selalu memberikan cerita atau harapan yang bagus siapapun bagi mereka yang mencintai dan menjadikan batik adalah bagian dari pada hidup. Kita sebagai makhluk dengan penciptanya, kita selalu menjalankan sesuatu yang benar, selalu menjalankan dengan thoriqoh yang bagus, sesuai dengan aturan, menjalankan dari hal kecil, dari diri sendiri, dari sekarang, betul-betul apa namanya tentang hakikat dari pada batik itu sendiri.

Mas Sapuan: “Ada empat perjalanan seseorang di batik. Yang pertama adalah perjalanan pembatik menuju batik. Yang kedua, perjalanan dari batik menuju ke pembatik. Yang ketiga ada perjalanan bersama batik. Dan yang keempat adalah, perjalanan bersama atau didalam batik. Dan penjelasannya Pak sapuan tadi saya kira itu. Bahwa innama buistu liutammima makarimal akhlak itu artinya tidak putus, atau aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti atau akhlak tadi antara khalik, makhluk dan akhlak. ini dari 1 akar kata yang sama tetapi mempunyai tujuan. Kenapa diciptakan makhluk, Kenapa ada sang Khalik, dan kenapa harus ada akhlak. Jadi ujungnya perjalanan batik itu adalah, perjalanan di dalam batik. Saya kira itu memayu hayuning Bawono bersifat Harmoni, adaptif menyesuaikan dengan alam, spiritualis mistis, kemudian tentram puitis. Ini saya kira saatnya buat teman-teman pembatik menjadi sebuah perjalanan pulang, bukan lagi perjalanan berangkat. Karena bagi pembatik, ini kita sudah berangkat menuju batik, dan saat ini adalah perjalanan pulang bersama batik menuju Tuhan. Ini holistik, ini kolektivisme, ini Harmoni. Kalau di barat itu, kita menjadi Semakin spesifik, menjadi menjadi semakin rasional empiris, dinamis, parsial deskriptif, maju. Tapi kalau di Jawa tidak. Kita harus menyatu, Harmoni, holistik, dan sifatnya tidak fragmentari. terima kasih

Ya mungkin perlu digarisbawahi, bahwa perjalanan batik itu bukan hanya batiknya saja. Batik bagian dari hidup, batik saat kelahiran, batik saat menstruasi, batik saat menikah, dan lain sebagainya. Jadi bukan hanya fisik batiknya saja sebagai batik perjalanan hidup, tapi batik ini adalah harusnya melekat pada roh atau jiwa atau perilaku kita terhadap batik yang kita geluti atau batik yang kita buat. Jika saya boleh menyimpulkan, bahwa seseorang membatik akan menjadi batik itu yang benar, yang sesuai dengan hakikat hidup dari para manusia itu sendiri, dan apabila tahu perjalanan batik, yaitu apa yang diciptakan, dia akan menjadi jiwa atau karakter di si pembatiknya untuk menuju keselarasan. Dan mereka semua adalah orang yang nantinya menciptakan 1 batik, dan batik itu akan memilih siapa ke depan yang menjadi pemilik batik itu sendiri. Dan semuanya dilakukan untuk kepuasan menentramkan. Jadi tidak sekedar fisik batiknya menjadi bagian dari hidup, tapi perjalanan membuat batik adalah perjalanan penciptaan jiwa, perilaku kita terhadap orang yang memang menjalankan ajaran-ajaran batik ini. Nah ini disesuaikan dari pada ajaran rasa, atau jiwa kita.

Ibu Rodia: “Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, alhamdulillah walaupun telat sedikit tadi ada kegiatan koordinasi, tapi saya akhirnya bisa bergabung di sini. Satu hal yang saya ingin tanyakan kepada Pak Dudung tadi terkait ada 4 langkah perjalanan, Nah, perjalanan pulang bersama batik ini apakah terpaut dengan usia? Artinya orang usia tua bisa saja baru mulai menuju batik, dan usia muda yang telah lama di dunia batik dapat dikatakan kan sedang menuju pulang menuju khaliknya? Kemudian, pengibaratan menyalakan api itu sangat berkesan, sehingga menurut saya apabila menganut yang disampaikan pa Dudung, saya yakin batik tidak akan pernah mati di Indonesia.

Pak Failasuf: Saya ingin mengapresiasi dari pembicara pada siang hari ini, bapak Sapuan dan bapak Dudung. Beliau beliau adalah para pembatik, pengrajin, dan para pelaku yang luar biasa menurut yang dapat menjadi cerminan para pengrajin batik dalam berkarya. Bagaimana menggunakan hati, dengan rasa, maupun badan, itu seakan-akan tidak terpisahkan. Sehinggam timbullah batik-batik yang bagus juga yang luar biasa juga karena memang dengan perilaku dengan rasa yang menjadi satu itu. Dan saya mengapresiasi kepada Mas Afif luar biasa membahasakan dengan bagus apa yang disampaikan oleh Pak Dudung dan pak Sapuan yang mungkin agak filsafat. Sehingga kita bisa mencerna kalimat kalimat itu dengan sangat indah. Saya ingin menyampaikan bahwa dulu, sebuah batik karya karya zaman kerajaan; zaman Majapahit, Mataram, kemudian kerajaan zaman dulu, itu penuh dengan filsafat. Penuh dengan ajaran-ajaran. Sheingga orang yang memakainya, itu akan menerima, kemudian menyesuaikan dengan ajaran-ajaran itu. Itu sangat luar biasa. Ini perlu dibukukan, kemudian perlu diturunkan. Namun memang perkembangannya sekarang, banyak batik-batik yang tidak punya narasi, tidak punya makna, maupun arti filsafat apalagi, sehingga seakan-akan ada keterputusan antara sejarah masa lalu dengan budaya batik sekarang. Meskipun ada pola-pola lama yang diulang. Namun, perlu adanya sosialisasi terus-menerus bahwa apa yang kita ciptakan, itu harus punya nama, makna arti, maupun filsafat. Jadi jangan sampai karya kita sekarang ini jauh menurun gitu dalam segi arti. Saya melihatnya batik itu hampir sama dengan katakanlah wayang. Wayang itu adalah media untuk mengajarkan ajaran agama Islam kepada masyarakat. Batik ini juga menjadi media untuk menyebarkan ajaran-ajaran yang baik kepda masyarakat. Mungkin belum sampai menyentuh itu, bahwa batik juga bisa menjadi sarana atau alat untuk menyampaikan ajaran-ajaran kebaikan kepada masyarakat. Saya pikir ini perlu saya sampaikan kepada temen-temen pengrajin ataupun pengusaha, bahwa batik karya Iya, tetapi bagaimana lebih dari itu. Kita mendambakan bahwa batik itu lebih dari lukisan. Lukisan yang terbaik adalah batik. Lukisan, kalau lihat dari proses pembuatan, makna cerita, kemudian apapun, batik itu mestinya lebih bagus, lebih bermakna, dan lebih mahal. Ya inilah mungkin dambaan kita selaku pengerajin, seorang yang berkarya di bati bisa mendambakan bahwa batik bisa luar biasa. Artinya pengaruhnya mendunia; mungkin diatas lukisan, karena dari proses, dari nama, makna, filsafat, itu jauh lebih lebih kalau menurut kita selaku pelaku batik.

Pak Dudung: Jadi Jangan berkecil hati buat temen-temen, atau siapapun yang sedang menjalani. Kita sedang berada di mana saat ini (Dari 4 langkah tadi)? Itu kita sendiri yang tahu. Tidak usah kemudian berkecil hati. Jalani saja, lakukan saja. Tetapi nanti anda akan mencapai, ibu-ibu, bapak-bapak sekalian para pembatik, kita sampai pada puncak eksperien ini, kita akan merasakan sebuah kegembiraan, kedekatan dengan sang Khalik tadi. Karena ini perjalanan makhluk menuju sang Kholik, dan perjalanan ini hanya bisa dicapai dengan akhlak kata Pak sapuan. 3 kata ini berasal dari 1 kata yang sama tapi berbeda. Jadi perjalanan menuju batik itu memang dengan ilmu pengetahuan. Tetapi kalau sudah sampai kepada batik, maka kepala kita sudah tidak ada lagi konsep lagi, yang ada tentang ketuhanan. Jadi kita akan merasakan suatu kegembiraan, kelembutan, kesadaran yang luar biasa. Jadi Jangan berkecil, nikmati saja dan teruslah berjalan menuju sang khalik tadi. Perjalanan itu sekali lagi hanya dapat diraih dengan akhlak.

Pak Agus: Untuk pak Dudung dulu. Batik kan sejarahnya dipakai di bawah, ya? Bukan berarti diinjak ya. Paling paling cantik, paling Anggun, paling gagah itu dipakai di bawah. Pakai kain, atau sarung. Kenapa dulu dipakainya di bawah? Terlepas dari teknilogi jahit menjahit.

Lalu untuk pak Sapuan, motif-motif yang dibikin pak Sapuan itu kan bertujuan untuk dipakai atau bagaimana?

Pak Dudung: Menurut sepengetahuan saya, meskipun batik itu lebih anggun di bawah, tapi ingat itu ada garis  batas batas di bawah yang biasanya untuk walang itu, itu kalau filosofinya adalah batas suci. Memang batik itu sebagai ageman, pegangan, ya sebagai penutup badan. Dan badan itu tidak harus atas, tidak harus bawah. semuanya harus ditutup menurut saya.

Pak Sapuan: . Untuk pertanyaan mas Agus,  selama ini kan memang kita sudah terbiasa bahwa ketika kita berbicara kain panjang atau sarung itu fungsinya dipakai untuk menutup aurat atau membungkus tubuh itu. Barangkali, pengertian fungsi itu harus diluaskan. Artinya, yang penting bisa memenuhi kebutuhan manusia. Jika misalkan beberapa ragam hias batik saya sulit untuk dipakai untuk melilit tubuh, kan biasanya digantung untuk dinikmati.

Tambahan, yang perlu saya sampaikan, bahwa spesies manusia itu secara fisik membutuhkan menu makanan dari bumi ini. Dan kita lahir itu dari kandungan ibu, dan dari kosmologi Jawa, bumi itu disebut dengan ibu pertiwi.

Pak Prie: Daritadi yang saya tunggu itu sebenarnya adalah genetiknya. Saya mau spesifik penampakan model batik nya Pak sapuan sama Pak Dudung. Kan kalau kita mengikuti semua ada perubahan-perubahannya. Dari Mas dudung misalkan dulu dari motif-motif yang Floral, sekarang menjadi parang-parang itu, kemudian sekarang mulai dimasukin lagi dengan wayang-wayang. Nah ini kan secara genotip ada perubahan, bisakah dijelaskan model berjalannya, apakah itu disengaja, ataukah genotipnya itu bertemu di perjalanan?

Pak Dudung: Perjalanan saya, ya itu tadi. Ketika kemudian saya beralih kepada motif-motif lain, kalau dulu indikasinya adalah indikasi daerah, saya mencoba mencari indikasi personal. Jadi memang, saya pernah berdiskusi dengan Pak Zahir. Pak Apakah ada pembatik Indonesia yang sudah sampai pada indikasi personal? Ini berat pertanyaannya. Jadi bukan perjalanannya saya berkeinginan membuat batik mengalihkan, tapi nilai-nilai yang ada di dalam filsafat wayang, batik, gending atau karawitan jawa, sebetulnya makna pembuatan dan penggunaannya itu sama. Saya ingin selalu mengatakan kepada teman-teman pembatik yang lain, dengarkanlah apa kata batik. Kalau dalam serial webinar yang lalu, mungkin kain itu perlu dikeloni ya perlu diajak tidur, perlu diajak ngomong. Sekali lagi kepada mas Pri, ini tidak bisa digeneralisir. Ini persoalan sangat personal. Jadi kalau hari ini kita bicara kepada indikasi geografis saya tentunya di konteks appbi sudah harus berbicara tentang konteks indikasi personal tadi yang disampaikan oleh Pak sapuan. Memang batik berat. Sehingga perlu disangga dengan Pakubuwono, mangkunegoro, Hamengkubuwono, dan paku alam. Ini menurut saya kalimat ini juga luar biasa kenapa alam itu harus dipaku, mesti Pakubuwono, harus di pangku, Hamengkubuwono, Pakubuwono, Paku Alam, dan mangkunegoro. Ini berkaitan dengan indikasi geografis, tetapi indikasi personal seperti yang disinggung Pak sapuan itu diri kita. Nah pengakuannya bukan lagi pada diri kita, Masyarakat nanti yang akan mengakui Apakah batik kita sudah sampai pada indikasi personal atau belum. Yang penting, adalah perilaku Barat itu menuntut kita menjadi benar dan baik.

Pak Sapuan: Saya coba membantu jawaban mas Dudung atas pertanyaan mas Pri. Soalnya kaitanya dengan genotip dan fenotip. Sebetulnya genotip itu berarti kan DNA nya tadi. Itu ekspresinya akan muncul jika berinteraksi dengan lingkungan, maka kan muncul fenotip. Nah, mungkin Mas Dudung itu mengalami mutasi genetika. Gitu aja masih kalau secara biologi. Lingkungan, itu bisa mengubah gen dalam jangka yang panjang. Dalam jangka yang panjang ini secara evolusi nya. Lah, padahal ini kemarin kasus covid saja tidak dalam jangka yang panjang, sudah ada mutasi gen. Ekspresi dari mutasi gen itu fenotip nya berubah. Barangkali seperti.

Mas Wira: Untuk pak Sapuan, Apakah anda keterkaitan karakter yang nyaris sama antara pemilik dan pembuat batik. Pemilik suka dan ingin memiliki batik yang merupakan cermin dari DNA si pembatik tersebut.

Pak Sapuan: Barangkali, pertanyaan Mas Wira itu bisa jadi pertanyaan kita semua. Tetapi ketika kita mempelajari hukum-hukum alam, kausalitas, memang Kan ada yang namanya resonansi. Jadi kalau kita mempelajari itu ada benda-benda langit itu punya mansilah masing-masing. Dan saya pikir pertemanan pun biasanya seperti itu. Jadi kadang, kita sejak kecil barang sudah bertahun tahun, tapi biasa-biasa saja. Tapi ada kawan yang baru kenal sebulan dua bulan tapi bisa akrab. Jadi itu seperti mencari jodoh nya itu. Dan hukum-hukum alam itu sepertinya seperti itu.

Ibu Esti: Pulang kepada sang khalik saya artikan pada pemahaman meninggal in kawula gusti. Jadi tidak terkait dengan usia muda ataupun tua.

Pak Dudung: Batik khususnya sangat filosofis karena lahir di timur, lahir di Indonesia, dan Timur sifatnya tempatnya matahari muncul. Sementara di Timur itu kadang-kadang pemikirannya memang tidak sistematis antara ontologi, epistemologi, aksiologi. Saya kira, seringkali kalau orang tidak jeli akan terjebak dalam memahami batik, dan hanya akan berhenti pada teks ya. Nah, perjalanan pulang ini saya kira harus dimaknai sebagai moralitas Jawa itu adalah etika dan estetika. Jadi kalau Pak Sapuan secara craftsmanship mencapai puncak atau ekstase yang dalam craftmanshipnya, tentunya etikanya juga harus menyertai. Gaya mode seperti ini berkelanjutan. Di barat hanya empiris dan rasional, di timur tentu tidak berhenti karena di Timur itu seringkali empiris ditinggal, bahkan dianggap tidak penting. Sementara disisi reflektif, batik itu sangat-sangat filosofis. Jadi mohon kepada tadi pertanyaan ini, mengenai perjalanan pulang ini, jalani saja. Kepada teman semuanya, kepada yang sudah menjalani, atau yang baru, atau pemula, atau yang sudah lama dibatik, jalani saja. Kita akan mencapai kesana sebagaimana batik itu ingin hadir di kita ya.

Pak Sapuan:  Menurut saya semua tentu akan pulang, dan sebetulnya banyak pintu-pintu menuju Tuhan, dan batik merupakan merupakan salah satu pintu menuju Tuhan.

Pada dasarnya, pembicaraan pada siang hari ini, kita berbicara soal ajaran batik ya. Dan pak Failasuf tadi juga menceritakan tentang bagaimana memaknai dan menamai batik. Jadi ada sebenarnya, ada 2 bagian. Batik bagian dari hidup manusia itu berupa fisik batiknya, yang berupa simbol-simbol, alot kebaikan, yaitu simbol-simbol yang buat kebaikan di mana ini perlu di memaknai dan perlu diberi makna itu berupa fisik batiknya. Dan kita untuk itu kita membutuhkan nantinya ke depan empu-empu pembuat batik. Kita membutuhkan itu. Nah, yang kita bicarakan pada siang hari ini adalah ajaran batik. Dari proses-proses seseorang mencipta, proses seseorang menuangkan jiwa, menuangkan kesan keseimbangan tubuhnya, dan menentukan dirinya sebagai seorang pembatik. Dan ini memang Baru kali ini petuah ini diajarkan. Dimulai dari mas Dudung maupun mas Sapuan, bagaimana ajaran batik ini perlu kita bahas, perlu kita diskusikan, agar semua pengrajin batik sudah menentukan dirinya sebagai seorang pembatik. Dia harus tahu bagaimana ajaran batik itu sendiri bagaimana ajaran Batik itu memberikan cahaya, memberikan pencerahan, dan membuat batiknya itu menjadi Mitra kesinambungan dengan siapa nanti pemiliknya. Ini adalah yang kita bicarakan pada siang hari ini. Di lain pihak, nanti kita perlu diskusi lagi, bagaimana memaknai atau memberi makna sebuah hasil karya batik dengan simbol-simbol itu sendiri, ya. Kalau zaman sekarang mas Sapuan membuat embrio dengan fisik yang seperti itu, DNA seperti itu. Zaman dulu mungkin sudah ada pemikiran yang seperti mas Sapun lakukan, tapi dulu wujudnya mungkin tidak seperti itu. Nah, kita nanti ada kesinambungan bagaimana memaknai atau menciptakan kebaikan-kebaikan itu dalam sarana ataupun alat batik yang nantinya kita butuh seorang empu batik di mana 40 tahun kemudian ini menjadi satu ajaran. Jadi pada dasarnya ada dua pemikiran pada kesimpulan ini. DNA dan Manunggaling kawulo Gusti dan lain sebagainya. Tapi mas failasuf mencoba untuk mengingatkan bahwa kita butuh batik ini bagian daur hidup batik ini berupa simbol-simbol memaknai dan menciptakan itu sendiri.

     Mungkin sebelum penutup ada statement dari kedua pembicara ini, Apa yang apa yang perlu disampaikan. Jadi apapun yang terjadi, kata mas Dudung, menuju bersama sampai dan pulang bersama batik, ya menuju batik bersama batik sampai dengan batik pulang dengan batik semuanya adalah menuju kesempurnaan agar kita menjadi lebih dekat kepada diri kita sebagai seorang pembatik.

Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu ini Hadits Qudsi artinya Siapa yang mengenali dirinya maka dia akan mengenali Tuhannya. Ini statement saya, kalau di batik bisa diartikan Siapa yang mengenal dirinya maka dia yang akan mengenali potensi batiknya. Dari sisi reflektif batik sangat filosofis. Dalam batik selalu bersifat simbolik atau tanda yang menandakan. Dari rasa, dari hati akan sampai ke hati.

–Pak dudung

Membuat batik itu sebetulnya cara indah untuk berbuat baik secara berjamaah.

–Pak Sapuan

Apapun yang terjadi, bahwa batik itu komunal. Batik itu bukan milik seorang. Kita sebagai konseptor ya, konseptor itu orang yang mempunyai konsep dan dia punya hak untuk menuangkan, mencatat namanya di situ. Dia adalah seorang konseptor. Tapi di belakang itu, ada sebuah gerbong. Gerbong Itu adalah sebuah tim. Dan tim mencakup seorang penggambarnya, seorang pembatiknya, pencelupnya. Nah untuk gerbong ini hidup, untuk gerbong ini Sejahtera, semua adalah konsep bagaimana manunggalnya kita dengan tim itu sendiri. –Pak Afif

DNA batik itu apa? Pembatiknya, atau apa nya? Yang mau disebut DNA nya itu yang mana? Mungkin definisi ini harus diclearkan. Kalau tidak, kalau kita ikut apa yang disebut dengan Dekranas, batik itu hanya bagian dari kerajinan. Tidak ada urusannya dengan DNA Batik. Pada warisan budaya tak benda, batik disamakan dengan sate klatak di Jogja. Dalam pemerintahan sendiri, UU sendiri, belum bisa menempatkan batik yang sebenarnya. –Prof Rahadi

Sebenarnya kalau menurut saya ini adalah kreativitas buat suatu uneg-uneg. Seorang mas Dudung, seorang mas Sapuan, dan dia menjelmakan satu proses ini menjadi dalam menjadi keyakinan. Maka dari itu saya menyimpulkan ini adalah ajaran batik. Nah ajaran batik ini,  individual ini ada selalu. Saya berpikir, mudah-mudahan dari semua pengrajin ini punya punya satu ajaran apa diyakinkan yang tapi yang benang merahnya sama yaitu mungkin disimpulkan dalam hati DNA.

Batik itu memang karya kolektif, tadi sudah saya sampaikan filsafatnya kolektivisme, sementara di barat itu lebih kepada parsial, kepada diri sendiri pada spesialis. Mas Failasuf, kenapa lukisan di barat itu lebih mahal? Karena itu bersifat tadi spesialis. Kalau di batik, itu karyanya karya kolektif. Disebutkan tadi dari pekerjaannya, nah kita sebagai pembatik ini hanya sebagai pemimpin orkestra yang mengkoordinasi semua potensi yang ada di dalam potensi-potensi batik. Terima kasih Pak Radi, mudah-mudahan yaitu seperti tadi kata saya ini hanya sebuah pengetahuan, santai aja ya masuk atau tidak masuk memang mencari pengetahuan mendapati pengetahuan tapi haknya pengetahuan nanti yang akan memberikan pencerahan kepada kita. Terima kasih.

Bahwa kesempatan yang disampaikan oleh Pak Dudung, pak Sapuan, ini sebenarnya adalah menunjukkan bahwa apa yang disebut batik itu, yang selama ini kita pahami sebagai tadi kerajinan, disamakan dengan sate Klatak, itu tidak seperti itu. Betapa dangkalnya kalau disampaikan seperti itu. Maka, mudah-mudahan nanti dewan pakar Yayasan Batik Indonesia juga bisa merumuskan, dan kita bisa bermitra dengan APPBI, karena tokoh-tokoh batik itu memang ya kita cukup banyak. Jangan sampai nanti pemerintah dari Departemen yang terkait masih menyamakan persepsi batik itu rendah itu. Jadi mudah-mudahan, kita bersatu, bermitra, jadi silakan tokoh-tokoh batik yang memang memiliki kemampuan untuk menterjemahkan sebenarnya DNA batik itu seperti apa, siap kita bergabung. itu saja terima kasih atas semuanya mudah-mudahan banyak manfaatnya pertemuan hari ini ya semuanya Assalamualaikum matullahi wabarakatuh. –Pak Komar

Terima kasih juga kepada pak Komar, Pak sapuan, pak Dudung. Apapun kita sebagai seorang pengrajin, ini adalah bagian dari hidup kita menentukan kita sebagai seorang pembatik. Kita harus mulai dari sekarang, mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri, harus berusaha falsafah, dan harus berjiwa seorang ksatria batik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang di APPBI ada yang bisa kami bantu?

Salam Batik.
Agus Purwanto