DNA BATIK BY SAPUAN

Oleh : Tim APPBI

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, baru saja saya dari tempat macul saya, di SMP Paninggaran nyampe rumah ini, mas Afif, pak Budi. Langsung buka ini ternyata mas Dudung sudah pada sesi akhir. Salam canting untuk para peserta webinar di seluruh Nusantara. Hari ini saya merasa senang sekali bisa bertatap muka walau meski lewat kotak kecil. Judul Webinar kali ini adalah DNA Batik. DNA batik memayu hayuning Bawono, saya harus cukup kuat ini memaknai memayu hayuning Bawono. Tetapi, pada penyampaian Pak Dudung terakhir itu kayaknya udah Klop itu apa yang dimaksud memayu hayuning bawono. Dalam artian itu bahasa Jawa, Mayu itu kalau rumah itu diberi atap. Artinya bisa menaungi, bisa melindungi. Kalau Hayu itu bisa berasal dari kata Rahayu, bisa artinya selamat sejahtera, dan bawono itu bisa berarti dunia, meliputi makro dan mikro Kosmos itu. Jadi, kalau secara singkat itu memayu hayuning Bawono itu adalah salah satu falsafah juga ini. Tapi entah kapan lahirnya itu tidak jelas, sebagaimana lahirnya batik itu juga tidak jelas. Tapi, bahwa memayu hayuning itu menjadi falsafah yang riil ada, begitu juga dengan batik. Artinya, secara singkat itu, manusia Jawa kalau bisa itu memayu hayuning Bawono itu, bisa memahami adanya keselarasan antara dirinya dengan lingkungan untuk menciptakan suatu kondisi yang serasi, selaras dan seimbang. Itu intinya seperti itu.

Lalu bagaimana dengan DNA batik? Saya akan mulai dari basic dulu. Dalam ilmu sel sitologi itu, bahwa di dalam inti sel itu terdapat yang namanya DNA. Nah variasi sifat makhluk hidup itu, semuanya berasal dari komposisi DNA. Di situ ada kode-kode yang selalu berpasangan; Adenin dengan timin, dan sitosin senantiasa berpasangan dengan Guanin. Komposisi ini setiap makhluk hidup berbeda. Dan dari komposisi yang berbeda itu, menjadikan hidup di dunia bervariasi. Hatta bayi kembar pun tidak ada yang sama persis. Nah, disini menunjukkan adanya variasi yang luar biasa. Lalu bagaimana dengan batik? Saya mencoba berangkat dari pengalaman perjalanan saya memasuki dunia batik. Setelah saya geluti, ternyata dibatik itu ada perbedaan variasi yang luar biasa. Secara umum, sejak kecil saya sudah bisa membedakan misalkan batik Solo, batik Jogja, batik Pekalongan, batik Madura, batik Cirebon. Walaupun namanya sama batik, tapi bagi mata kepala yang sudah terbiasa melihat itu langsung bisa membedakan. Oh ini batik Pekalongan, Oh ini batik Cirebon, dan seterusnya. Artinya, di situ ada variasi. Nah saya mulai berpikir lebih lanjut “mengapa ada perbedaan variasi?” Tentu batik itu sebagai hasil Cipta karya manusia itu, yang dihasilkan dari lingkungan yang berbeda, ternyata mempengaruhi hasil karyanya itu. Ternyata variasi itu bukan hanya bersifat kedaerahan. Saya sering diskusi dengan pak Dudung, jadi ke depan itu bukan hanya kita melihat variasi atau Perbedaan batik itu pada ke daerahan, tapi ke personal. Misalkan, itu batik karya Pak Dudung, Oh itu ya Pak Zahir, oh itu karya mas Afif, misalkan. Di batik, setelah saya menekuni betul itu, ternyata laku membuat batik itu secara teknis sudah mengajarkan nilai-nilai yang luar biasa, bukan hanya sekedar pekerjaan teknik fisik semata.

“Saya kadang berpikir, membuat batik dengan adanya teknologi modern, kenapa tidak selesai saja?”

“Mengapa tidak selesai saja dengan munculnya printing kalau kita menerima teknologi modern?”

Membuat batik tulis lu ribet luar biasa. Tetapi, salah satu guru batik saya mengatakan “di dalam proses teknik membuat batik itu, di situ disematkan oleh leluhur kita suatu pesan-pesan nilai”. Contoh, batik zaman dulu itu kebanyakan dicanting bolak-balik. Ketika 2008 saya kali pertama dipertemukan dengan almarhum Pak Iwan Tirta, saya sempat bertanya

“Pak, kenapa batik kenapa batik dibuat bolak-balik?

Pak Iwan menjawab ibarat kerjaan selesai. Tetapi kata salah satu guru batik saya mengatakan

”Tidak sekedar itu pak Sapuan, bahwa membatik dibuat bolak-balik itu sepertinya ada pesan bahwa lakumu, tindakan, antara perkataan dan perbuatan itu harus sama. jadi lahir batin itu harus sama.

kemudian pada proses membatik itu, persiapannya itu tidak asal-asalan. Orang dulu itu dimulai dari persiapan bahan mori itu, tidak asal beli dari pabrik kemudian langsung dicetak. Tapi prosesnya luar biasa. Itu menunjukkan bahwa setiap kita melakukan sesuatu itu tidak boleh serba instan. Semua harus pakai urut-urutan yang luar biasa. Dipersiapkan betul. Terus sampai pada urut-urutan membatik itu, sampe nglowongi, kemudian isen-isen, sampai nembok dan seterusnya itu tidak asal-asalan. Kita tidak bisa melakukan proses yang akhir itu didahulukan. Ternyata itu juga ada satu ajaran bahwa dalam menghadapi kehidupan ini, ada satu urut-urutan yang kita tidak bisa melanggar. Bahkan, sampai pada teknik membatik itu, memegang canting, menggoreskan, itu kalau leluhur kita dulu itu sampai dihubungkan dengan satu tarikan nafas. Sampai goresan cantingnya itu mengandung filosofi yang luar biasa. Dan tidak boleh guyon harus dalam suasana meditasi. Ini laku di proses batik.

Kemudian, saya sempat usil berfikir “ngapain pakai canting dan pakai lilin panas?” Sekarang kan dengan temuan ada lilin dingin itu seperti sablon malam itu. Kalau pakai lilin panas itu kan berbahaya, ya. Ternyata, salah satu guru Saya juga mengatakan bahwa, justru itu laku, ibarat orang mau belajar hidup itu harus hati-hati. Itu menggunakan lilin panas, kalau tidak hati-hati bisa tumpah. Dan saya jadi ingat, ketika ikut belajar batik di rumah sering ke ketumpahan lilin panas. Jadi, proses yang menggunakan malam panas, dengan menggunakan canting seperti itu, yang mungkin orang sekarang mengatakan tradisional, menurut saya itu memang bener tradisional, tetapi itu sekaligus modern. Karena sudah coba digantikan oleh alat yang lain, pakai canting listrik yang sekarang dibuat itu gagal. Jadi, siklusnya saya pikir sudah selesai ini. Bentuk canting yang seperti itu, bisa dikatakan tradisional sekaligus modern.

Afif Syakur ==>

Ya, apa yang mas Sapuan sampaikan itu adalah bagian apa yang dilakukan dari setiap pengrajin batik. Tadi mas Sapuan mengatakan bahwa lahirnya batik sampai sekarang pun kita masih belum tahu dari tahun berapa dan sebagainya. Tapi kenyataan bahwa batik itu satu pelajaran yang diturunkan kepada kita yang turun-temurun, dan kita sebagai manusia memahami tentang batik itu sebagai keselarasan, kondisi keseimbangan, dan semuanya itu adalah untuk kesejahteraan ataupun untuk kemaslahatan daripada pembatik itu sendiri. Dan pada DNA batik, pak Sapuan lebih lugas mengatakan bahwa seperti makhluk hidup yang mempunyai DNA yang berpasangan, berkreasi, dan sebagainya. Mas Sapuan menyampaikan, setiap karakter batik mempunyai DNA yang berbeda-beda. Selain daripada kreasi dari pada batik sendiri. Tapi yang jelas, bahwa jiwa personal daripada si pembatik itu adalah pokok yang ada dalam karakter batik itu. Dan, dalam nilai melakukan proses lahir, maupun batin, seperti tadi dikatakan bahwa proses batik itu memberikan jiwa di batik dengan depan dan belakang, atau atas-bawah, yang merupakan lahir maupun batin, dan semuanya itu dengan persiapan yang tidak bisa di langgar. semua itu dengan aturan-aturan. Nah, nanti kita akan mendiskusikan ini, Bagaimana sikap kita terhadap teknologi. Ini batik sebagai budaya. Seperti yang disampaikan mas Sapuan, batik sebagai komoditas budaya yang memang dilakukan oleh turun-temurun, pesan yang tidak tertulis, tradisi lisan dan ini menjadi tradisi tulisan, dan itu dilakukan dari setiap karakter pembatik itu sendiri.

Sapuan —->

Iya, jadi, dalam artian, saya secara gegabah mengatakan begini, sebetulnya setiap manusia itu pembatik, nah bahwa kemudian berapa persen potensi atau bakat pembatiknya itu yang mungkin tiap-tiap manusia tidak sama. Kemudian, lingkungan akan mempercepat Jika punya DNA batik. Penting sekali di sini urut-urutan proses membuat batik tradisional itu. Saya melihat ini seperti pelajaran bahwa mengantri itu penting. Kemudian setelah saya geluti, bahwa ternyata, misalkan bentuk desain A, akan cocok dengan isen-isen A, tata warnanya, semua harus serasi, selaras dan seimbang. Artinya, dari situ, dari pelajaran membatik kita diajarkan falsafah-falsafah kehidupan yang luar biasa. Sampai dalam satu kain yang sekarang motif Hokokai itu kan tata warnanya yang luar biasa, perbedaan warna yang luar biasa, tetapi jika itu dibuat oleh ahli batik yang pandai sekali, itu kita melihatnya luar biasa indah. Dalam artian, ternyata banyak mengajarkan pluralitas itu tidak bisa mengelakkan. Dan saya semakin yakin bahwa pluralitas itu ada itu ketika aku menggeluti batik. Jadi, dari proses laku saya membatik itu, oh ini ada falsafah-falsafah kehidupan yang luar biasa. Sampai pada satu kesimpulan, batik itu suatu perjalanan laku seseorang untuk sampai kepada Tuhannya. Seperti itulah yang saya sebut, batik itu sebuah Thoriqah sebetulnya. Dan saya melihat hampir semua warisan budaya Nusantara itu sarat dengan filosofi-filosofi semacam itu.

Lalu, yang menarik ini kaitanya dengan DNA batik dan memayu hayuning Bawono, harusnya seorang pembatik Itu lakunya benar. Kita harus serasi, selaras, seimbang dengan lingkungan hidup. Adanya korona semacam ini, itu sebetulnya merupakan tantangan. Karena apa? Mau tidak mau, tidak ada pemasukan keuangan, sementara saya memiliki karyawan. Menjaga keseimbangan, memayu hayuning Bawono itu dalam situasi sesulit seperti ini itu kita bisa tidak mempertahankan. Ini yang menjadi pekerjaan pembatik. Kalau pembatik itu lakunya benar, harusnya berupaya bagaimana agar para pembatik yang ada di kita itu dengan tirakat yang diatur sebagaimana itu agar jangan sampai berhenti. Saya punya solusi, maksudnya solusi saya, walaupun pembatik saya nggak banyak, tapi karena tidak ada pemasukan, maka mau tidak mau saya buat shift jadi bergilir. walaupun menyisakan satu tungku kompor itu hanya 3 sampai 4 orang, tapi menjaga agar jangan sampai batik itu berhenti. Karena itu mereka itu bagian dari kerajaan batik saya. Ibarat saya juragan itu raja, maka saya bagaimana menerapkan konsep memayu hayuning Bawono. Saya harus adil terhadap rakyat rakyat saya. Itu konsep saya memahami DNA batik memayu hayuning Bawono, dalam artian seorang pembatik yang sudah memahami DNA batik, harusnya bisa berbuat adil. Jadi dalam kondisi seperti ini, itu kita tidak menganut falsafah tiji tibeh (mati siji mati kabeh), ripji ripbeh (urip siji urip kabeh). Itu saja yang bisa saya sampaikan, teima kasih.

Afif Syakur —-->

Terima kasih banget Mas Sapuan. Kembali lagi, bahwa apa pun yang terjadi, bahwa seorang pengrajin atau seorang pembatik, dia adalah sebagai manusia, memang dia mempunyai perbedaan, dan itu merupakan kreasi dari para pembatik itu sendiri. Karena pada dasarnya, jiwa personal daripada batik itu berada dalam proses batiknya. Dan nilai laku tindakan lahir, maupun batin seperti yang dilakukan bagaimana urutan-urutan dalam kita menjalankan batik. Mungkin ada 1 yang kepingin saya simpulkan, apapun yang terjadi, apalagi di musim pandemi ini bahwa proses perjalanan batik ini kembali lagi kepada kesejahteraan daripada si pembuat batik itu sendiri, atau kesejahteraan daripada tim atau gerbong yang dibawa itu sendiri. Saya ada 1 yang ingin saya tanyakan ke Pak sapuan, bahwa setiap manusia itu sebenarnya bisa dan mampu sebagai pembatik. kalau mas Dudung mengatakan bahwa, setiap manusia kalau memang kodratnya dia sebagai pembatik, ya dia akan membatik. tidak hanya meniru, tidak hanya apa, dia kodratnya seorang seniman dan dia membatik. Kalau Mas Sapuan mengatakan bahwa, setiap siapa pun sebenarnya bisa. tinggal dia bakat atau tidak dalam menjalankan jalanan batik itu sendiri. dan pekerjaan batik itu kan memang harus sabar, harus mengantri, ada perbedaan, dan lain sebagainya. Nah, yang ingin saya tanyakan pada mas Sapuan

“Hasil batik yang kurang bagus disebabkan oleh perajin yang kurang berbakat, atau bagaimana?”

“ Ini kita harus konsep dulu bagus dan tidak bagus. Karena kan memang relatif. Tapi secara teknik, dimulai dari batik halus identik dengan bagus. Padahal halus dan bagus kan beda. Yang banyak orang tidak tahu itu tentang penggunaan canting, dan yang halus itu kita kenal dengan penggunaan canting nol. Yang menjadi persoalan begini, saya sendiri lahir di lingkungan kampung saya bukan pembatik halus. berbeda kalau di Kedungwuni itu yang sudah ratusan tahun turun temurun di situ sudah terbentuk pembatik –pembatik halus. Saya mencoba mengumpulkan pembatik. Prinsipnya kan yang penting mereka sudah bisa pegang canting dan sudah biasa membatik. Ketika mengubah, memindah dari canting yang tadinya ukuran besar ke kecil, laku perjalanan menggoreskan canting di kain itu ternyata ada perbedaan luar biasa. Kalau biasa menggunakan canting besar, dan apalagi biasa batik kurungan, itu kan cepat sekali. Nah, kebiasaan cepat begini ketika pindah ke batik halus, batik halus tidak mungkin bisa cepat. Kalau toh bisa cepat, mesti hasilnya kalau diteliti bikin titik saja tidak bulat. Nah, mengubah kebiasaan mengendarai motor ngebut suruh pelan itu minta ampun susah. Nah di sini Mas yang sosial kosnya menjadi tinggi sekali. Dan saya harus mengubah itu. saya katakan, Mbak, tugas pembatik, kamu coba hasilkan batik sebaik-baiknya. saya tidak pernah membuat target sehari atau sejam itu harus sekian. Pokoknya tugasmu adalah membatik sebaik-baiknya. Saya punya tugas juga. Saya berusaha menyejahterakan kamu semampu saya. Yang penting keduanya harus saling rela. Sehingga mereka butuh ketenangan. Tetapi, ketika akhirnya jadi, dan orang yang mengapresiasi itu halus, ada satu kepuasan batin. Mulai sedikit demi sedikit, ternyata kita bisa mengubah. Ternyata kita bisa mengubah yang tadinya mencanting kasar, dengan tradisi biasa cepat, mengubah perilaku. Itu antara lain teknik saya mengajarkan mereka seperti itu mas.

Mas Sapuan ini mampu membawa tim menjadi sesempurna mungkin, sesuai dengan aturan atau ajaran DNA batik. Ini yang saya simpulkan menjadi seperti itu ya. Jadi dari mas Sapuan yang berlatar belakang bukan seorang pembatik, dengan jiwa ketekunan, dengan jiwa rasa yang memang ingin menjalankan batik sesempurna mungkin. Dan beliau telah membawa gerbong ini untuk menjadi suatu produk yang unggulan. Ini perlu kita contoh ya, perlu kita apresiasi, bahwa basic-basic siapapun dia, manusia apapun dia, kalau seperti mas Dudung katakan, bahwa itu apabila dikodratkan dia sebagai seorang pembatik, dan dia akan menekuni perjalanan DNA batik dengan falsafah-falsafah batiknya itu sendiri, maka dia bisa mampu menjalankan atau memimpin gerbong ini untuk mewujudkan keberadaan batik itu sendiri sesuai dengan karakter ataupun jiwa daripada para pembatik itu sendiri.

Mas Afif: “Seperti yang dikatakan mas Dudung, batik telah menjadi bagian dari cahaya, maka akan ada satu bab atau pemikiran tentang ajaran batik (bagian dari kesinambungan perjalanan batik itu sendiri). Menurut mas Dudung dan Sapuan, ajaran sebagai seorang pembatik itu bagaimana agar bati menjadi bagian dari perjalanan itu?”

Mas Dudung: “Seorang pelaku batik itu menuntut perilaku benar dan baik. Jadi, jadilah pembatik yang baik, maka batik apapun yang kamu buat itu akan baik (tidak perlu kasar ataupun halus). Karena ketika kita membawa perilaku kita menjadi benar dan baik secara DNA tadi, itu sesuai dengan kalimat jadilah hamba Tuhan yang baik. Maka, menjadi apapun Kamu manusia, beragama apapun, berpendidikan apapun, berkehidupan seperti apapun, kamu akan baik. Kemudian menjaga nyala, tadi Pak sapuan menjaga nyala sedemikian rupa dengan usaha yang maksimal di era pandemi seperti ini. Berkaitan dengan bakat sekaligus tirakat. Bakat itu talenta dari Tuhan, tirakat itu usaha manusia. Dan yang terakhir, saya ingin mengatakan batik menuntut akhlak ketuhanan. Selain sunnatullah, qodratullah. Batik menuntut perilaku, menuntut usaha, yaitu melalui tirakat. Jadi, ajaran-ajaran yang dibatik adalah ajaran-ajaran tentang tata nilai kehidupan khususnya filsafat Timur, filsafat Indonesia, dan filsafat Jawi ini luar biasa. Pak Sapuan dan teman-teman yang lain saya kira sudah sampai. Tapi mohon tidak berhenti karena kalau kita sudah mengatakan sudah sampai, itu berarti kita Berhenti. Stop. berarti dalam konteks ini, siapapun yang menjalani laku batik, atau para pesalik yang berjalan yang menjalani thoriqoh batik, menjalani proses batik ini adalah selalu menjalani menuju kepada Tuhan. Saya kira itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang di APPBI ada yang bisa kami bantu?

Salam Batik.
Agus Purwanto