Estetika Motif Taman Telaga Teratai – Batik Keraton Cirebon

Sekilas  Kriya Batik Keraton Cirebon

Berdasarkan penuturan dari Pegusten Keraton Kasepuhan XIV PRA H. Arief Natadiningrat serta penuturan yang disampaikan Ratu Arimbi dari Keraton Kanoman, keduanya menyampaikan tentang perihal batik Keraton Cirebon ialah suatu seni kriya yang dibuat dengan cara melukiskan malam pada sebuah kain, dengan corak-corak tertentu, yang dipergunakan oleh kalangan Keraton Pakungwati/Caruban Nagari, beserta keturunannya sampai dewasa ini yang tersebar di wilayah Cirebon. Kegiatan membatik dilakukan sejak masa pemerintahan Pangeran Walangsungsang Cakrabuana yang bergelar Sri Mangana pada tahun 1469 M, yang kemudian dilanjutkan oleh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) pada tahun 1479 M. Kemudian kini berkembang pesat khususnya disekitar wilayah desa Trusmi Kabupaten Cirebon. Produksi batik Keraton Cirebon, sejak dulu telah dipercayakan oleh Sultan untuk dikerjakan oleh masyarakat desa Trusmi hingga kini.

Batik merupakan warisan tradisi budaya Indonesia yang kini telah diakui oleh dunia ; maka Cirebon adalah salah satu wilayah yang memiliki kekayaan khasanah budaya batik yang variatif, baik yang masih tetap ada hingga kini, bahkan mewarnai mozaik batik dunia.

Keraton Cirebon dibagi :

  1. Keraton Kasepuhan ragam hias Singa Barong;
  2. Keraton Kanoman ragam hias Paksi Naga Liman;
  3. Keraton Kaprabonan ragam hias Dalung
  4. Keraton Kacirebonan ragam hias Bintulu.

Batik Keraton Cirebon memiliki ciri yang khas, diantaranya sbb:

  1. Motif dan tatawarna yang sederhana.
  2. Warna latar kain biasanya cokelat muda atau gading dan unsur motifnya berwarna khas babarmas, seperti warna pada batik motif Singa Barong, yang mirip kereta aslinya berlapis emas.
  3. Memiliki ciri bentuk garis-garis yang kecil dan tajam “mrawit/merawit”
  4. Memiliki ragam hias Wadasan dan Megamendung
  5. Tiap unsur ragam hias memiliki makna-makna simbolik
  6. Tema motif batik mengambil dari artefak bangunan, kereta kencana, landscape, dan cerita mitos di lingkungan keraton.

Kelompok ragam hias batik Keraton berdasarkan pada pengelompokan yang memiliki makna Simbolik, makna Spiritual dan Makna Mitos :

1).   Makna Simbolik :

       Patran Kembang, Patran Keris, Lenggang Kangkung, Dalungan, Simbar Kendo, Simbar Dalung, Simbar Menjangan, Keblekan, Daun Kluwih, Daun Waru, Oyod Mingmang, Sumping Darawati, Sumping Kresna Galaran, Taman Arum Kasepuhan, Taman Sunyaragi, Taman Alas Gunung Jati, Rajeg Wesi, Wadas Gerompol, Wadas Mantingan,  Panji Semirang, Sawat Penganten, Sawat Romo, Sawat Riwe (teladan), Sawat Gunting, Balongan, Banjar Balong, Banjar Barong,  Sawat Penganten Sunat, Ayam Alas Gunung Jati, Ayam Katewono, Ayam Walik Sawunggaling, Babon Angrem, Mega Mendung dan Mega Sumirat.

2).   Simbol Mitologi, seperti :

       Paksi Naga Liman, Singa Barong, Naga Seba, Singa Payung, Naga Utah-utahan, Sawung Galing, Bouroq, Wadas Singa (Kanoman), Urang Supit, Ceplok Bintulu, Singa Kanoman, Singa Banaspati dan Sawat Gledek.

3).   Makna Spiritual, seperti :

       Patran Kangkung, Masjid Trusmi, Taman Teratai, Taman Arum Pakungwati, Siti Inggil Kanoman, Insan Kamil, Gunung Giwur, Gedongan Sunyaragi, Lawang Gada, Gapura (Gofuran), Puser Bumi dan Keprabonan.

Tekstur Pada Batik Keraton-keraton Cirebon

Pada umumnya kain-kain batik keraton Cirebon menggunakan bahan yang terbuat dari kain katun (mori) yang bertekstur datar (plain), sehingga jarang sekali ditemukan kain keraton yang bertekstur.

Komposisi Pada Batik Keraton-keraton Cirebon

Komposisi batik keraton yang didasarkan pada motif utama (motif pokok) dapat dibagi menjadi sebagai berikut :

1).   Tumbuh-tumbuhan, seperti :

       Patran Kangkung, Patran Kembang, Patran Keris, Lengang Kangkung, Dalungan, Simbar Kendo, Simbar Dalung, Simbar Menjangan, Keblekan, Daun Kluwih, Daun Waru, Oyod Mingmang, Sumping Darawati, Sumping Kresna Galaran.

2).   Simbol Mitologi, seperti :

       Paksi Naga Liman, Singa Barong, Naga Seba, Singa Payung, Naga Utah-utahan, Sawung Galing, Bouroq, Wadas Singa (Kanoman), Urang Supit, Ceplok Bintulu, Singa Kanoman  dan Singa Banaspati.

3).   Taman (landscaping), seperti :

       Taman Arum Kasepuhan, Taman Sunyaragi, Taman Alas Gunung Jati, Masjid Trusmi, Taman Teratai, Taman Arum Pakungwati, Siti Inggil Kanoman, Gunung Giwur, Gedongan Sunyaragi, Lawang Gada, Gapura, Gedongan Sunyaragi, Puser Bumi dan Keprabonan.

4).   Wadasan, seperti :

       Rajeg Wesi, Wadas Gerompol, Wadas Mantingan dan Panji Semirang.

5).   Sawat, seperti :

       Sawat Penganten, Sawat Romo, Sawat Riwe (teladan), Sawat Gledek, Sawat Gunting, Balongan, Banjar Balong, Banjar Barong dan Sawat Penganten Sunat.

6).   Unggas, seperti :

       Ayam Alas Gunung Jati, Ayam Katewono, Ayam Walik Sawunggaling dan Babon Angrem.

7).   Mega Mendung, seperti :

       Mega Mendung dan Mega Sumirat.

Latar Belakang Motif Taman Telaga Teratai

Berdasarkan pada Naskah Babad Carita Purwaka Caruban Nagari dan Naskah Mertasinga, wilayah Cirebon sekitar tahun 1568-1649 Merupakan daerah Pra-Islam dibawah kekuasaan Kerajaan Galuh-Pakuwan Pajajaran. Pada abad XIV, dengan melemahnya kekuasaan besar kerajaan Galuh Pakuwan Pajajaran menjadikan bermunculannya nagari-nagari kecil di wialayh Utara Pulau Jawa bagian Barat seperti: Nagari Wanagiri, Sindangkasih, Surantaka, Singapura, Japura, Rajagaluh, dan Talaga di wilayah sekitar Cirebon sekarang (Unang Sunardjo; 1983). Nagari desa tersebut sebelumnya bercorakan kebudayaan Hindu dan Budha, saudara tua Anggalalarang bernama Ki Gedeng Sindangkasih. Ki Gedeng Sindangkasih ditemani keponakannya Raden Pamanah Rasa seorang putra Anggalalarang hingga dewasa.

Masa pemerintahan ini adalah masa sebelum Sunan Gunung Jati menjadi tokoh yang sangat berpengaruh. Pada masa itu kekuasaan wilayah ini dikenal beberapa nagari yang berbentuk kekuasaan-kekuasaan wilayah kecil (nagari dukuh/desa) di sekitar pesisir pantai utara wilayah Cirebon dan sekitarnya. Agama yang dianut oleh masyarakat tersebut sebagian besar adalah agama Hindu.  Berdasarkan naskah Purwaka Caruban Nagari, Naskah Mertasinga, Naskah Kuningan dan Naskah Tangkil, perjalanan kebudayaan masyarakat Cirebon diawali dari kebudayaan masyarakat pribumi yang memiliki kepercayaan beragama Hindu dan Budha secara berdampingan.

Latar belakang Bunga Teratai sebagai sumber pengembangan batik Keraton Cirebon di dasarkan pada sumber sejak jaman pra Islam hingga masuknya Islam lengkapnya  sebagai berikut:

– Bunga teratai akar dan pangkalnya tumbuh di dalam lumpur, batangnya berada di air dan bunganya berada di atas air. Dengan demikian bunga teratai hidup di tiga alam yaitu alam lumpur, air, dan udara. Di dalam, ajaran agama Hindu Hyang Widhi disebutkan bertahta di atas tiga alam ini, sebagai penguasa Tri Bhuwana yaitu alam Bhur, Bwah, dan Swah. Hidup bunga teratai di dalam tiga alam inilah yang di-identikkan dengan Bhur, Bwah, dan Swah sehingga bunga teratai bisa dianggap simbol Tri Bhuwana.

– Bunga teratai walaupun hidup di lumpur yang busuk dan hidup di air tetap berbau harum dan tidak basah oleh air. Sebab itu maka bunga teratai dianggap sebagai lambang kesucian, bebas dan ketidakterikatan. Ida Sang Hyang Widhi walaupun Beliau menciptakan dunia dan berada di dunia, Beliau bebas dan ketidak terikatan dunia. Kesamaan ini menyebabkan bunga teratai sebagai simbol tempat duduk (sthana) Hyang Widhi.

– Bunga teratai mempunyai tangkai bunga yang lurus dan pangkal yang berada dalam lumpur sampai ke sari bunganya yang berada di atas air. Sesuatu yang lurus itu biasanya dipakai sebagai simbol yang baik.

– Meskipun bunga daun (kelopak daun) bunga teratai itu lebih dari delapan kelopak, tetapi di dalam mythologi selalu dilukiskan bahwa daun kelopak bunga teratai itu berjumlah delapan, dengan tepung sari di tengah sebagai simbol Hyang Widhi yang menguasai seluruh penjuru mata angin dikenal dengan gelar Dewata Nawa Sanggha, terdiri dari Dewa Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambu, dan Siwa.

Demikianlah beberapa hal keistimewaan bunga teratai sehingga dipakai simbol dari linggih atau tempat duduk (sthana) Hyang Widhi.

Naskah Petarekan 

Ketika agama Islam masuk ke wilayah Cirebon, simbol teratai yang dulu pernah digunakan oleh masyarakat Cirebon penganut ajaran agama Hindu-Budha terus dipergunakan dan dilestarikan. Hal ini sejalan dengan kaidah ushul fiqih dalam agama islam yaitu “Al muhafadhotu alaa qodimi shalih wal akhdu bi jadidil ashlah” artinya melestarikan atau menjaga nilai-nilai lama yang masih baik dan menggali nilai nilai baru yang lebih baik”.

Karena pengguna dari simbol-simbol tersebut masih merupakan orang yang sama, yang membedakan kini adalah keyakinannya saja yang berubah dari penganut ajaran agama Hindu-Budha menjadi penganut ajaran agama Islam. Sehingga agama Islam tidak perlu repot-repot mencari simbol-simbol baru yang belum jelas dipahami orang dalam membuat simbol ketuhanan, maka diambilah bentuk teratai yang sudah benar-benar dikenal dan sudah terinstitusioanalisasi dengan baik, tinggal dimasukkan saja nilai-nilai keislamannya.

Hati yang paling dalam Sirri/Sirrun, hati yang paling halus, hati yang paling dalam, hati yang paling rahasia, hati yang paling memiliki kerinduan kepada Allah. Di dalam Sirrun itu ada AKU ALLAH. Dalam ajaran Tarekat Syattariyah hati tersebut digambarkan sebagai Kembang Teratai yang memiliki lapisan-lapisan.  Untuk dapat menjaga dan merawat hati seseorang harus tahu lapisan-lapisan hati yang ada dalam dirinya. Lapisan hati menurut hadits Qudsi diawali dari Qoshrun, Shodrun, Qolbun, Fuaddun, Shogofun, Lubbun dan Sirrun. Lapisan-lapisan tersebut  merupakan wujud simbolisasi dan makna simbolik dari hati abstrak yang ada pada manusia bukan sebagai hati organ biologis manusia. Karena hati sebagai organ tubuh manusia adanya di sebelah kanan, sedangkan hati yang sifatnya ruh/spiritual tersebut adanya di sebelah kiri kurang lebih dua jari dibawah susu sebelah kiri yang bentuknya seperti kembang teratai. Dibayangkan oleh murid syattariyah di dalam alam pikirnya tergambar bagaikan kembang teratai (sumber drh. H. Bambang Irianto).

Makna Lugas

Bunga teratai yang mekar; Bunga teratai yang mekar; Binatang gajah dalam bentuk stilasi wadasan; Bentuk gelombang air; Daun teratai yang tertelungkup; Burung bangau yang sedang menengadah ke atas “posisi tarekat”; Binatang sejenis serangga/kupu-kupu; Daun teratai yang mekar; Tanaman pandan wangi yang tumbuh di batu cadas; Bentuk gelombang air; Bunga teratai yang mekar; Burung bangau yang sedang menengadah ke atas sambil makan ikan “posisi ma’rifat”; Binatang buaya.

Makna Mitologis

Melambangkan lapisan-lapisan hati manusia yang berlapis-lapis, mulai dari Shard, Qolbun, Fuad dan Sirr; Sama dengan poin a; Melambangkan kebesaran dan kekuatan dalam mengemban tugas; Melambangkan Sumber kehidupan; Melambangkan sikap arif dan bijaksana; Burung bangau (Phoenicpterus ruber) dalam masyarakat Cirebon dikenal dengan ajian bangau butak yang dimaknai dengan tingkatan penghayatan seorang dalam menjalankan agama islam (Syariat, Tarekat, Hakekat dan Ma’rifat);  Melambangkan  kesejahteraan dan kemakmuran dalam kehidupan; Melambangkan keluasan hati dan jiwa; Melambangkan seorang pemimpin harus bisa memberikan kedamaian kepada rakyatnya serta menebarkan aroma keharuman iman islam; Melambangkan Sumber kehidupan; Sama dengan poin a; Sama dengan poin f; Melambangkan alam bawah.

Pola Tiga Susun

Pola ragam hias disusun 3 lapis, yang melambangkan bahwa dalam alam kehidupan terdapat tiga tingkatan yaitu terdiri dari alam Jahut (manusia), alam Malakut (alam nabi) dan alam Lahut (Ketuhanan) . Ada juga yang memaknai dari konsep Triloka dimana alam dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama disebut dengan alam arcapada yaitu alam yang dihuni oleh para dewa. Kedua adalah alam madyapada yaitu disebut dengan alam dunia tengah yang dihuni oleh para manusia. Ketiga adalah alam sunyaruri yaitu alam bawah yang dihuni oleh para makhluk halus bangsa syetan. Pola ragam hias disusun 3 lapis, yang melambangkan bahwa dalam alam kehidupan terdapat tiga tingkatan yaitu terdiri dari alam Lahut, alam Jahut dan alam Malakut.

Keterangan konsep pola sama dengan di atas (Sumber : Raofan Hasyim).

Struktur motif Taman Telaga Teratai

Susunan pembentuk motif Taman Telaga Teratai, diantaranya sebagai berikut :

Megamendung, Gedong Samar, Burung Bangau 4 posisi, Bangunan Jinem, Daun Teratai (beragam bentuk), Daun Kluwih, Serangga , Kupu-kupu, Wadasan, Gajah Wadasan, Gapura, Gunungan, Meander, Bintulu, Kuto Kosod, Pandan Wangi, Akar Pandan Wangi, Binatang Ular, Binatang Buaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang di APPBI ada yang bisa kami bantu?

Salam Batik.
Agus Purwanto