SEJARAH BATIK LASEM VERSI APPBI

Oleh : Komarudin Kudiya.

Suasana pagi yang hening dan cukup dingin dimedio bulan Februari 2021, diiringi hujan rintik-rintik hujan gerimis terdengar sayup-sayup bunyi notifikasi Hp terus berdering. Ternyata di group WA Pendiri APPBI (Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia) telah berlangsung komunikasi pendiri APPBI membahas Batik Lasem Kabupaten Rembang – Propinsi Jawa Tengah.  

Kenangan setahun yang lalu ketika sempat berkunjung ke Lasem terbayang kembali, teringat suasana Lasem dengan segala pesonanya, pluralismenya yang pekat tercermin jelas dari arsitekturalnya maupun dari keragaman motif-motif batiknya. Ketika penulis bersama rombongan APPBI yang berjumlah sekitar 20 orang, selama 3 hari tinggal di rumah Merah Heritage Lasem. Kami semua disuguhkan dengan suasana keramahan masyarakat Lasem terutama sobat batik Lasem yang dikomandani oleh Pak Santoso Hartono. Sabtu pagi diiringi hujan hujan beberapa pengurus APPBI bangun dan diajak oleh Pak Santoso mendatangi warung kopi Jinghay di Jl. Karangturi Gg. 2.  Aroma kopi lelet panas yang dihasilkan dari seduhan biji kopi yang di roasting matang, sehingga nampak bubuk kopi hitam yang lembut dengan aroma dan rasa yang khas kopi lelet Lasem.

Sebelum kami pulang dari warung kopi Jinghay menuju Rumah Merah, penulis  bersama   Mas Agus Purwanto, Mas Faillasuf, Mas Eko, Mas Andre dan Pak Santoso sempat singgah di pasar desa Karang Turi membeli jajanan rakyat yang ada di pasar tersebut.

Tepat pukul 08.30 kami dijemput oleh Pak Santoso dengan disiapkan kereta Odong-odong yang bisa mengangkut 25 orang untuk berkeliling di rumah-rumah produksi batik tulis Lasem. Sebelum rombongan  menaiki kereta odong-odong kami sempat berfoto bersama Tim Barongsai Rumah Merah yang sedang berlatih rutin untuk persiapan pentas.

Satu demi satu rumah produksi batik tulis Lasem yang dimiliki oleh etnis Tionghoa dan etnis Jawa kami datangi berurutan. Nampak sekali suasana kedamaian, keberagaman, pluralisme dua unsur etnis yang saling membaur. Dengan disuguhi aneka ragam hias batik tulis lasem berbagai motif dan corak warna yang khas, cukup indah dan sangat menawan hati.

Pada awalnya saya merasa heran di rumah orang Tionghoa terdapat hiasan dinding dengan tulisan Arab. Sebaliknya di rumah-rumah orang Jawa juga terdapat tulisan China. Sangat menarik dan membawa kesan yang sangat menakjubkan. Andaikan semua masyarakat Indonesia dimanapun saling menjaga dan menghormati adanya perbedaan dan saling bekerjasama sesuai dengan bidangnya masing-masing alangkah indahnya bangsa Indonesia yang diikat dengan Bhineka Tunggal Ika.

Perjalanan rombongan APPBI di hari itu setelah makan siang dikediaman bapak H. Rifa’i pemilik Batik Ningrat di Jl. Japerejo dekat kawasan kuliner Lontong Tuyuhan Pancur, kemudian mampir di lokasi bengkel kerja batik milik Pak Santoso yang berada di kawasan Karasjajar Doropayung Pancur. Ternyata di depan bengkel kerjanya ada pohon Trembesi Raksasa Karasjajar yang sangat besar dan berusia lebih dari 300 tahun. Semua rombongan menikmati keindahan dan suasana yang sejuk beristirahat di bawah pohon sambil tidak lupa kami semua berfoto ria dengan batik-batik yang sengaja telah kami persiapkan dari rumah masing-masing. Setelah cukup puas dengan berfoto ria, perjalanan hari itu di akhiri dengan mampir di Showroom batik Pusaka Beruang yang tidak lain milik Pak Santoso Hartono sobat APPBI yang telah menjamu semua rombongan APPBI.

Pada malam harinya kami berkumpul bersama para perajin batik Lasem kurang lebih ada sekitar 40 orang. Kami disuguhi makan khas Lasem yaitu Lontong Tuyuhan, Sayur Mangut, Urap Latoh dan Telur Rajungan, suguhan kuliner yang khas dan semuanya nikmat.

Pada malam pertemuan yang sengaja diagendakan oleh Pak Santoso dan tim, kita semua bersama seluruh perajin batik Lasem yang hadir saling sapa, saling canda dan ngobrol santai perihal batik Lasem dan batik Indonesia. Satu persatu dari perwakilan APPBI menyampaikan pengalamannya, diawali dari ketua APPBI, terus dilanjutkan oleh H. Afif Syakur, H. Rommi Oktabirawa, H. Faillasuf dan lainnya. Pengurus APPBI yang hadir di Lasem pada waktu itu diantaranya : Komarudin dan istri, Faillasuf dan istri, Rommi Oktabirawa dan istri, Andre dan Yuli, Putu Sulistiani dan suami, Nita Kenzo, Tatik Sriharta, Budi Darmawan, Agus Purwanto, Eko Suprihono, Wira dan istri, Arty dan suami, Nia Hasan, Maemonah  dan M. Pribadi dan istri. Selebihnya ada beberapa peserta yang hadir dari YBJB dan Batik Kembang Mayang Tangerang. Suasana yang sangat berkesan dan selalu mengundang kangen untuk diulang.

Dari perjalanan APPBI ke daerah Lasem Rembang ini, menghasilkan beberapa temuan dan bahan pemikiran yang akan dituangkan pada program APPBI ditahun-tahun mendatang.

Beberapa ide dan gagasan penting yang telah diusulkan APPBI kepada Pemda KAbupaten Rembang maupun pada pemerintah pusat dalam pengelolaan aset tradisi budaya bangsa yang berada di daerah Lasem dan sekitarnya diantaranya:

  1. Revitalisasi tradisi budaya kriya batik Lasem yang merupakan pencampuran antara etnis Tioanghoa dan etnis Jawa perlu dilakukan segera, serta diwujudkan dalam bentuk ketetapan Peda setempat. Dengan tujuan agar kearifan lokal genius ini bisa diwariskan pada generasi selanjutnya.
  2. Perlu diwujudkan pasar tradisional khusus batik tulis Lasem dengan konsep pasar tradisional yang bersih dan dikelola secara profesional.
  3. Dibuatkan Peta Wisata dan Program Destinasi Wisata Batik Lasem Tradisional, dengan melibatkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Rembang, Travel Biro Perjalanan, PHRI setempat, serta dibentuk Pusat Informasi Wisata Edukasi dan Belanja Batik Lasem.
  4. Diperlukan tenaga-tenaga pengelola jasa pariwisata dengan penguasaan bahasa asing yang profesional.

Usulan tentang ide dan gagasan tersebut langsung disampaikan kepada Bupati Rembang melalui forum silaturrahim antara APPBI, Komunitas Perajin Batik Lasem dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rembang yang dilaksanakan pada tanggal 15 Januari 2020 di Hotel Pollos.

Pada pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Rembang Bapak H. Abdul Hafidz beserta Kepala Dinas Indag Kab. Rembang.

Bupati Rembang pada waktu itu dengan tegas bahwa pada tahun berjalan di 2020, akan dialokasikan dana bagi pengembangan batik Lasem lebih besar dari anggaran-anggaran sebelumnya.

Pernyataan yang disampaikan oleh Bupati disambut dengan rasa senang oleh seluruh peserta yang hadir, terutama oleh para perajin batik Lasem yang hadir pada saat pertemuan tersebut.

Namun sangat disayangkan Pandemi Covid-19 datang dengan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan berlangsungnya hingga berita ini disampaikan belum ada kepastian, kapan akan berakhir.

Semoga bagi para perajin batik dan pengusaha batik Indonesia khususnya, tetap semangat, terus berdo’a dan tetap jaga protokol kesehatan dalam setiap kegiatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang di APPBI ada yang bisa kami bantu?

Salam Batik.
Agus Purwanto