SEJARAH BATIK LASEM VERSI APPBI Part 2

Oleh Komarudin Kudiya

Selanjutnya penulis akan menyampaikan tentang peran APPBI sebagai wadah para perajin dan pengusaha batik Indonesia, yang senantiasa berusaha untuk memberikan warna tersendiri dan berusaha untuk menghadirkan data-data yang lebih aktual dan terpercaya dalam mengungkap sejarah perjalanan batik di berbagai daerah di Indonesia. APPBI yang pendiri dan pengurusnya sebagai praktisi dan pelaku usaha kriya batik Indonesia, bukan hanya sebagai pelengkap dan saksi sejarah batik Indonesia, namun terus berusaha berbagi ilmu tentang kriya batik, mengungkap kehadiran batik-batik di berbagai daerah dengan menghadirkan tokoh-tokoh batik yang aktif dan mumpuni, praktisi kriya batik yang sebenarnya dan bukan sebagai pendongeng batik.

Dalam teks singkat ini, penulis  tidak akan membahas secara detail tentang sejarah Batik Lasem yang telah melegenda sejak abad ke 8 M hingga masuk ke jaman VOC, namun akan dibatasi dari rentang waktu tahun 1998 hingga tahun 2020.

Pembahasan perkembangan batik Lasem Kabupaten Rembang akan dilakukan dengan pendekatan diakronik, dimana jejak rekam sejarah singkat batik Lasem tersebut penulis dapatkan secara langsung dari para perajin batik yang merupakan bagian dari pelaku sejarah yang memberikan informasinya dengan akurat dan jelas. Sebagian besar dari pelaku sejarah batik Lasem ini masih sehat dan masih melakukan produksi batiknya hingga hari ini.

Kita akan bahas sejak kapan tradisi  batik tulis Lasem Kabupaten Rembang mulai diangkat kembali dan diperkenalkan ke tingkat nasional. Disamping dari periodesasi waktu, kita juga akan telusuri dan dikenalkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam mengangkat batik Lasem tersebut.

Kita coba telusuri secara diakronik dengan periodesasi sejak tahun 1998 hingga tahun 2020. Dalam rentang tahun 22 tahun tersebut, batik Lasem mengalami perubahan yang sangat signifikan.

Tahun 1998Tahun 2006Tahun 2010Tahun 2017Tahun 2020
Pertemuan awal Disparbud Jateng dengan Pak Dudung di Kec. Pancur LasemPelatihan batik Perajin batik Lasem di kediaman Pak Dudung Pekalongan. Pembentukan Koperasi Batik LasemPerajin batik Lasem mendapatkan dukungan Pemerintah daerah dan Bank Pemerintah untuk Berpameran di Jakarta Penerimaan UpakartiPesanan seragam batik Lasem oleh Pemda Kab. RembangPengalokasian Dana Pemkab Rembang untuk Program Pasar Batik Lasem dan Konsep Destinasi Wisata Batik Lasem

Dari penuturan tokoh batik Lasem yaitu Bapak Santoso Hartono (53) pemilik batik Pusaka Beruang yang juga sebagai pendiri dan pengurus APPBI, menuturkan tentang periodesasi perjalanan batik Lasem dalam kurun waktu 1998-2020 sebagai berikut :

Tahun 1998, pada waktu itu dilakukan pertemuan antara Ibu Sugiyem perajin batik dari

Lasem dengan Bapak H. Dudung Alie Syahbana  dari Pekalongan yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah, pegawai Disparbud Propinsi Jawa Tengah pada waktu itu diwakili oleh Ibu Martini. Pertemuan yang dilakukan di daerah Kecamatan Pancur tersebut menghasilkan beberapa keputusan yang diantaranya adalah perlu dilakukan inventarisasi dan identifikasi batik Lasem Rembang. Selanjutnya oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah akan ditindak lanjuti dengan kegiatan pelatihan batik serta diberikan bantuan  alat-alat batik yang diperlukan perajin.

Pada Waktu itu Ibu Sugiyem masih bekerja di perusahaan batik Lasem milik bapak Tok Gie yang merupakan ayah dari Ibu Merry Purnomo (Batik Kuda/ Batik Purnomo).  Kini usaha batik milik Bapak Tok Gie diteruskan oleh Ibu Wiwin sebagai penerus dari keluarga bapak Tok Gie.

Tahun 2005, para pembatik Lasem masih tergabung dalam klaster Batik Lasem yang pada

waktu itu dipimpin oleh Ibu Naomi pemilik Batik Maranatha.  Kemudian klaster ini berusaha berkordinasi dengan pemerintah daerah Kabupaten Rembang untuk memberikan bantuan dan dukungannya dalam pengembangan batik Lasem.

Tahun 2006, DPRD Propinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Daerah melalui Dinas  Pariwisata

dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah merealisasikan kegiatan pengembangan dan pelestarian batik Lasem Kab. Rembang. Kegiatan tersebut dilakukan dengan mengirimkan 10 perajin batik dari Lasem yang dilatih di Pekalongan. Pelatihan tersebut diberikan materi tentang ilmu batik secara lengkap melingkupi sejarah batik Indonesia, Pembuatan Desain Batik, Pembuatan lilin, Pewarnaan batik menggunakan Indigosol, Pelorodan Batik, Pemasaran batik (mengikuti pameran batik di Jakarta) dan upaya lain dalam meningkatkan kualitas batik Lasem agar bisa memasuki pasar batik nasional. Pelatihan dilakukan selama 4 hari, dan seluruh peserta menginap di kediaman Bapak H. Dudung Alie Syahbana di Jl. Pekajangan 19  no. 11  Kab Pekalongan. Dalam pelatihan tersebut, dihadirkan pula Drs. Sapuan yang juga turut memberikan materi pelatihan tentang batik, terutama materi tentang bagaimana agar kriya batik Lasem bisa memiliki ciri khas daerah dan bisa memasuki ceruk pasar batik nasional. Selain itu ada pula yang turut menyampaikan materi batik yaitu Bambang Sukoco, Thorik dan Nur Salam.

Daftar 10 peserta tersebut diantaranya sebagai berikut:

  1. Ibu Naomi Batik Maranatha Ong’s Art dari desa Karang Turi.
  2. Bapak Santoso Hartono Batik Pusaka Beruang dari desa Sumber Girang.
  3. Mak Kiem Batik Talenta dari desa Babadan.
  4. Bapak Wiji Suharto (alm) Batik Padibulu dari desa Babagan
  5. Bapak Rokim Batik “Kidang Kencana” dari desa Tulis Selapuro..
  6. Bu Catherine “Batik Bee” dari desa Babagan.
  7.  Mas Alfin “Batik Purnomo” dari desa Gedongmulyo.
  8.  Mak Som “Batik Surya Kencana” dari desa Karang Turi.
  9.  Ibu Sugiyem “Batik Pesona Canting” dari desa Karoskepoh.
  10.  Ibu Susanto “Batik ” dari desa Gedongmulyo.

Pada periode berikutnya di tahun berikutnya disertakan pula Bapak H. Rifa’i pemilik batik Ningrat Lasem, yang bersangkutan pada waktu itu masih menjabat sebagai kepala desa Pohlandak.  Kemudian berdasarkan informasi dari H. Dudung Alie Syahbana, pelatihan batik bagi perajin batik Lasem ini dilakukan tiap tahun berturut-turut hingga 10 kali. Masih di tahun 2006 tepatnya pada tanggal 19 Februari 2006 didirikan Koperasi Batik Lasem dengan nomor Badan Hukum 004/BH/518/II/2006, dengan alamat Jl. Jatirogo No. 34 Lasem Desa Sumber Girang Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang. Koperasi ini untuk mewadahi para perajin batik yang berada di wilayah Kecamatan Lasem.

Tahun 2008 : Perkembangan batik Lasem mulai menunjukkan kualitasnya, setelah perajinnya

mendapatkan sentuhan ilmu batik dari tokoh-tokoh batik Pekalongan tersebut Pada tahun-tahun sebelumnya, para pembatik Lasem dalam penggunaan pewarna batik sintetis masih menggunakan jenis zat pewarna Naphtol untuk warna (merah, kuning dan coklat) dan pewarnan Indantren (untuk warna biru dan ungu). Pada akhirnya, para perajin batik Lasem setelah mendapatkan ilmu sewaktu mengikuti pelatihan batik di Pekalongan, pewarnaan batik Lasem  mengkombinasikan antara pewarna naphtol dengan pewarna Indigosol.

Tahun 2010 : Perkembangan selanjutnya,  Dinas-dinas tingkat Propinsi Jawa tengah dan

Dinas-dinas di Kabupaten Rembang, serta beberapa Bank pemerintah seperti BRI, BNI 46, Pabrik Semen, PT. Petro Kimia turut mendukung dan membantu pemasaran batik Lasem, dengan memberikan bantuan pendanaan serta bantuan promosi dengan mengirimkan beberapa perajin batik Lasem untuk turut berpameran di batik di Jakarta.

Mulailah beberapa perajin batik Lasem Kab. Rembang mendapatkan penghargaan dari pemerintah berupa Upakarti yang diberikan melalui Kementrian Perindustrian. Pada tahun 2010 Upakarti diberikan kepada Bapak Santoso Hartono pemilik batik Pusaka Beruang.

Para perajin batik yang tergabung dalam Koperasi Batik Lasem yang diketuai oleh Pak Santoso Hartono sepakat dan menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa perubahan drastis dan meningkatnya kualitas batik Lasem khususnya yang berada di beberapa desa di Kecamatan Lasem, diakibatkan oleh dukungan pemerintah dan BUMN tersebut di atas, serta setelah melakukan pelatihan dan bimbingan yang intens dari Pak Dudung Alisyahbana dan Pak Sapuan yang berasal dari Pekalongan. Belum pernah ada kelompok manapun yang secara nyata mengajarkan tentang hal-hal teknis yang berkaitan dengan peningkatan kualitas produksi batik tulis Lasem selain dari informasi yang telah disampaikan tersebut di atas.  

Tahun 2014 : Selanjutnya penghargaan Upakarti diberikan kepada saudari Priscilla Renny

pemilik usaha batik Maranatha. Para perajin batik di Lasem semakin semangat mengejar mimpi-mimpinya dengan lebih sering mengikuti pameran-pameran batik di JCC (Jakarta Convention Center) dan beberapa event pameran di sekitar wilayah Jakarta.

Tahun 2017 : Para perajin batik Lasem  terus melakukan promosi dan bekerjasama dengan

pemerintah daerah Propinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Rembang. Dukungan yang dilakukan oleh pemerintah, adalah dengan menggunakan batik tulis Lasem satu kali dalam seminggu khusus untuk pegawai Pemda Kab. Rembang. Pemerintah Kabupaten Rembang membeli sebanyak 7.387 potong batik tulis Lasem.

Tahun 2020 : Untuk memberikan penghargaan dan dukungan semangat kepada masyarakat

perajin batik Lasem Rembang pada pertengahan bulan Januari 2020, APPBI melakukan kunjunan kerja ke perajin batik Lasem dan mengadakan pertemuan dengan Bupati Rembang. Hasil dari pertemuan tersebut akan diagendakan pengalokasian dana Pemda Kabupaten Rembang untuk membuat Destinasi Wisata Batik Lasem yang terintegrasi dan dibuatnya Pasar Batik Lasem pada lokasi yang lebih strategis.

Beberapa penuturan yang penulis dapatkan dari perwakilan para perajin batik Lasem yang mengamini bahwa kesuksesan tradisi kriya batik Lasem Kabupaten Rembang adalah buah dari pembinaan Disparbud Propinsi Jateng,  Disperindag Rembang, para Pembeli dan Pecinta batik Lasem, sesama Perajin batik Lintas Daerah, dukungan perbankan nasional, juga hasil dari pelatihan batik yang terus menerus di Pekalongan Jawa Tengah sebagai berikut :

Penulis mulai dengan mewawancarai bapak H. Rifa’i pemilik usaha batik Ningrat mengatakan : “Pada waktu mengikuti pelatihan batik di Pekalongan tahun 2006  waktu itu masih menjadi kepala desa. Adapun mulai fokus mengerjakan batik tepatnya di awal tahun 2008. Manfaat dari pelatihan batik di Pekalongan itu cukup lengkap. Diakui atau tidak para perajin batik Lasem sebenarnya telah banyak memanfaat ilmu dari Pak Dudung dan sangat bermanfaat sekali dalam memproduksi batik-batik Lasem yang sangat berbeda dengan kondisi sebelum tahun 2006 yang masih menggunakan pewarna naphtol. Setelah belajar dari Pekalongan perajin batik Lasem kini mengenal pewarna indigosol yang menghasilkan warna-warna muda dan pastel. Kalimat yang paling dikenal dari Mas Dudung pada waktu itu adalah, jangan melihat pasar batik hanya di daerah Lasem dan Semarang semata, karena pasar batik terbesar ada di Jakarta. Sedangkan konsumen batik di Jakarta lebih senang dengan warna-warna yang muda dan pastel. Maka sejak saat itu sebagian perajin batik Lasem, mulai mengkombinasikan teknik pewarnaan indigosol dan pewarna naphtol”.

Penuturan dari bapak Alfin putra dari Ibu Merry Purnomo menyampaikan : “Manfaat dari pelatihan batik di Pekalongan yang saya rasakan diantaranya adalah bisa belajar menggunakan pewarnaan Indigosol, sehingga batik-batik Lasem bisa tambah bagus. Selebihnya kami dimotifasi oleh instruktur agar bisa membuat produksi batik yang sesuai dengan selera pasar batik nasional, seperti di Jakarta. Selebihnya kami semua juga diberikan dasar pelatihan tentang desain dan meningkatkan nilai estetis dari kriya batikserta mempertahankan kearifan lokal motif-motif batik Lasem”.

Penulis juga banyak mendapat informasi dari Pak Santoso Hartono, bahwa dukungan Pemda Propinsi Jawa Tengah dan Pemda Kab. Rembang sangat membantu dalam mengangkat usaha kriya batik Lasem. Masyarakat perajin batik Lasem sangat berterimakasih atas prakarsa Dinas Pariwisata Propinsi Jawa tengah yang pertama kali menyambut keinginan para perajin batik Laasem untuk bisa belajar di tempat laion, agar mendapatkan ilmu batik yang lebih baik guna meningkatkan kapasitas produksi batik. Sehingga para perajin batik dapat bersaing dengan wilayah lain daerah penghasil batik-batik tradisional khususnya dari wilayah Jawa Tengah. Selanjutnya para perajin batik Lasem juga pernah diberikan pelatihan pewarna alami dengan bekerjasama melalui komunita Warlami.

Dalam sejarah batik Lasem jauh sebelum jaman kemerdekaan, bahwa batik-batik Lasem memiliki keunggulan warna alami khususnya warna merah. Pak Santoso mengatakan bahwa warna merah batik Lasem yang dulu, hingga hari ini belum pernah ditemukan lagi rumusnya. Hal ini masih dijadikan catatan penting dan perlu diupayakan untuk menemukan kembali rumus untuk pewarna merah alami tersebut. Jangan ada yag mengatakan bahwa pewarna merah khas batik Lasem tersebut kini telah ditemukan, pada kenyataannya, pewarna merah pada batik Lasem yang sekarang masih menggunakan pewarna sintetis naphtol.

Nilai-Nilai Kehidupan pada Masyarakat Lasem

Penuturan dari Pak Santoso Hartono bahwa masyarakat Lasem merupakan masyarakat majemuk dan harmonis. Kondisi seperti itu bisa dirasakan langsung oleh penulis pada saat diajak berkeliling naik kendaraan ondong-ondong bersama seluruh rombongan pendiri dan pengurus  APPBI ke beberapa rumah-rumah produksi batik yang berada di desa Karang Turi, Sumber Girang hingga desa Gedongmulyo di Kecamatan Lasem dalam acara kunjungan kerja APPBI di  pertengahan bulan Januari 2020.

Masih penuturan Pak Santoso Hartono, bahwa masyarakat Jawa dan Tionghoa dapat hidup berdampingan secara harmonis karena mereka masih memiliki ingatan kolektif tentang perjuangan bersama ketika dulu melawan penjajah VOC serta kejadian di tahun 1998 mereka bersepakat menjaga terjadinya gejolak politik yang mengganggu antar etnis. Masyarakat Lasem memiliki nilai hidup yang menekankan pada keselarasan dan kebersamaan dalam menjaga kerukunan berbangsa dan bernegara. Sehingga dapat dipastikan bahwa selama ini dimulai dari tahun 1998 hingga sekarang tidak pernah terjadi gejolak dan disparitas sosial perbedaan etnis Tionghoa dan etnis Jawa. Kami sudah menyatu dalam kerukunan dan membangun budaya nasional bersama-sama, termnasuk dalam membangun usaha batik Lasem.

Berkaitan dengan produksi batik tulis Lasem penuturan dari Bapak Rifa’i pemilik batik Ningrat, bahwa masyarakat keturunan Tionghoa dan masyarakat pribumi terjalin dengan indah dalam turut mengangkat kerajinan batik tulis Lasem. Mereka saling berbagi resep dan pengalaman dalam turut menumbuhkan batik Lasem untuk mencapai kualitas terbaiknya, terbukti mereka juga bisa bergabung dalam satu wadah komunitas Koperasi Batik Lasem   sekarang ini.

Kesimpulan yang disampaikan langsung oleh Pak Santoso Hartono, secara umum keberhasilan pengrajin batik Lasem Kabupaten Rembang baik perajin batik yang baru maupun perajin batik yang lama  sebagai berikut :

  1. Perajin batik Lasem terus aktif bertanya kepada perwakilan pemerintah daerah tentang jadwal diagendakan pelatihan-pelatihan teknis serta jadwal pameran batik di tingkat propinsi maupun nasional di Jakarta.
  2. Aktif menawarkan hasil produksi kriya batiknya ke kantor-kantor dinas Pemda tingkat propinsi maupun tingkat kabupaten. 
  3. Keberhasilan usaha kriya batik Lasem bisa tetap eksis disebabkan adanya kepedulian dari  Pemda Bab Rembang, dalam  memberi kebijakan dalam 1 minggu wajib pakai batik Lasem 4 hari,  sehingga produksi perajin batik kecil bisa terserap dengan baik.

Pak Santoso Hartono juga menambahkan beberapa kegiatan tahunan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Rembang diantaranya:

  1. Mengikutkan sertakan perajin batik Lasem pada ajang pameran tingkat nasional setiap tahun
  2. Mengadakan Rembang Expo dan Pameran sejenis lainnya yang turut mendukung perajin batik Lasem
  3. Mengadakan lomba Fashion Show menggunakan Batik Lasem
  4. Menerbitkan peraturan untuk menjaga keaslian batik tulis Lasem dan mendorong pemakaian batik Lasem bagi para ASN di lingkungan Pemda Kab. Rembang.
  5. Mendaftarkan Haki motif batik Lasem di Kementrian Hukum dan HAM
  6. Menyebarkan rasa bangga menggunakan batik tulis Lasem, sebagai salah satu propaganda Aku Bangga Produk Indonesia.

Harapan APPBI khususnya bagi para perajin dan pengusaha batik Lasem diantaranya:

  1. Kegiatan rutin yang sudah diselenggarakan oleh Pemda Kab. Rembang melalui dinas-dinas terkait dalam pem binaan dan pengembangan batik Lasem agar terus dipertahankan dan ditingkat.
  2. Para perajin batik tulis Lasem terus melakukan kordinasi yang intens dengan institusi-institusi yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian batik Lasem
  3. Terus bersemangat dan menciptakan batik-batik tulis Lasem yang berkualitas dan memiliki daya jual di pasar batik daerah dan nasional.
  4. Terus menggali potensi sumber ide dan gagasan bagi poengembangan batik tulis Lasem serta membuka wawasan dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan pelatihan dan webinar dalam rangka membekali diri dengan pengetahuan terkini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang di APPBI ada yang bisa kami bantu?

Salam Batik.
Agus Purwanto