DNA BATIK BY DUDUNG

Oleh Tim APPBI

Banyak-banyak Terima kasih ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa Yang telah melimpahkan rahmat karunia kepada kita semuanya hingga siang hari ini kita diberi kenikmatan, kebahagiaan. yang penting rasa enjoy dan terutama adalah rasa cinta batik. Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada peserta yang siang hari ini bergabung, kepada panitia, dan kepada narasumber yang nantinya akan berbincang-bincang dengan kita semuanya. Terutama ada tamu kehormatan bagi kami bapak Prof. Rahardi Ramlan beserta ibu dan beberapa teman dan beberapa tokoh tokoh masyarakat yang dapat bergabung pada siang hari ini.

Kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kita ketemu lagi lewat Zoom bincang-bincang batik dengan Jalur Wastra Nusantara seri 4 oleh Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia,  dan tema yang siang hari ini yang kita ambil untuk cukup menggigit yaitu DNA batik Memayu Hayuning Bawono.

Di mana DNA batik diibaratkan tentang perjalanan Batik itu sendiri dan bagaimana Memayu Hayuning Bawono. Bagaimana dengan batik kita bisa menjadikan batik ini ketentraman untuk diri kita maupun ketentraman masyarakat dan ketentraman dunia pada siang hari ini ada dua pembicara atau narasumber yang tidak asing lagi bagi kita yang satu adalah Kang Mas Dudung Ali Syahbana, beliau lahir 8 Januari 1965, pendidikan Interior Desain, aktif di Inacraft dan dua kali juara lomba desain batik, sales of Exellent  2007. Beliau ini tidak asing lagi di kancah perbatikan baik di tanah air maupun internasional.

Yang kedua pembicara kita adalah Kangmas Sapuan lahir tanggal 9 bulan Desember 1964, Sarjana Pendidikan Biologi IKIP Semarang.  Pekerjaan adalah guru SMP Negeri Paninggaran Pekalongan sejak 1994 sampai sekarang dan terjun ke batik 2006 sampai sekarang. Beliau adalah tokoh batik yang selalu berada di belakang, tapi hasil-hasil karyanya spektakuler. Beliau mempunyai imajinasi yang luas. Dua pembicara inilah yang nantinya kita akan berbincang-bincang bersama sebagai masyarakat pembatik, hanya diberi tahu bahwa batik bagian dari ekonomi. selama ini kita hanya membuat laku dan setelah itu tersirat suatu proses dan seni, seni kasih sayang tertuang dalam sehelai kain, itulah bagian dari batik. Dalam bincang-bincang siang hari ini, kita akan dengarkan petuah pemikiran bijak soal hakikat bagaimana terntang batik. UNESCO mengakui tentang perjalanan batik proses batik. Kita sendiri harus mengakui dan mengetahui tentang perjalanan sebuah Maha Karya Batik kita sendiri.

“Apa hubungan batik dengan jiwa dan pembatiknya?”

“Apa hubungan batik dengan mereka yang mengoleksi atau membelinya?”

“Dan Apa hubungan batik dengan bagian bangsa dan negara ini? Karena kita adalah negara yang punya budaya membatik.”

Kita akan dengarkan dua pembicara kita, dan yang pertama saya minta pada  mas Dudung untuk sekelumit atau berbicara tentang hakikat, atau DNA daripada batik itu sendiri dan mudah-mudahan tarekat perjalanan batik ini akan kita dengarkan bersama-sama. “Mas Dudung bisa mendengarkan dan melanjutkan untuk menguraikan tentang DNA batik.

Assalaamualaikum wr.wb. Bismillahirrohmanirrohim Radhitu billahi rabba, wa bil islami dinan wabi Muhamma din nabiyya wa Rasulla. Rabbissyrahli shadri wa yasilli amrii wahlul Uqdatam milisani yafqahul qauli

Alhamdulillah terima kasih kepada semua sahabat-sahabat batik Indonesia, APPBI dan teman-teman di luar APPBI yang berkenan hari ini mengikuti serial webinar yang ke-4 di tahun 2021, dan terima kasih kepada panitia yang sudah memberikan tugas ini kepada saya. Mohon maaf teman-teman sekaligus mohon izin kalau saya bicara ini bukan berarti saya lebih pintar atau saya sudah menguasai tetapi ini melainkan sebagai salah satu tugas. Pada seorang pembatik seorang pengelola asosiasi dari batik Indonesia. Judulnya sangat bombastis, menantang, Memayu Hayuning Bawono yang kalau boleh saya artikan secara bebas artinya mempercantik kehidupan yang sudah cantik.

Izinkan saya mengutip kalimat salah satu hadis innama buistu liutammima makarimal akhlaq. Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti atau akhlak atau etika. Itulah puncaknya perjalanan manusia tidak lepas dalam konteks ini dan mohon izin kepada teman-teman sahabat batik Indonesia, saya nanti mengutip beberapa ayat dari kitab suci karena memang keterbatasan saya. Dalam konteks praktik ini beberapa kalimat tidak bisa dikuasai yang

  • pertama innalillahiwainnailaihirojiun.
  • kedua warna apa yang
  • ketiga adalah man arofa nafsahu faqod arofa robbahu

Ini semua kalimat ini nanti saya terjemahkan. Kata ini berhubungan dengan bahasan dan kajian udah serem teman-teman. Ini hanya sebagai sebuah pengetahuan yang mampir saja dalam kehidupan kita mudah-mudahan ketika pengetahuan itu mampir hadir di kita, berkenan tinggal betah dan berbuah. Kita jadi santai saja perasaan kita tidak usah yang serem-serem ya. Manunggaling Kawulo Gusti jangan diartikan itu menyatunya manusia atau diri kita dengan Tuhan. Tapi dalam konteks yang sederhana konteks batik dan membatik.

Pertama saya sebutkan tadi innalillahi wa inna ilaihi rojiun kalimat ini sebetulnya bermakna bahwa kita manusia ini berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Hanya kalimat ini sering diperdengarkan ketika ada orang meninggal dunia, saya juga nggak tahu awalnya. Seperti apa, tapi saya memaknai bahwa dalam batik seorang pembatik itu punya tugas kehidupan. Dan Tuhan tidak iseng menjadikan kita pembatik, ya begitu pula para pecinta para penikmat batik, para kolektor batik, itu pasti Tuhan punya keinginan, punya maksud untuk apa, kita kemudian tertarik pada batik, mengoleksi batik, membuat kupu-kupu batik, menjadi pembeli penikmat dan para kolektor batik. Sebetulnya ini adalah sebuah makna dari nilai atau tatanan nilai Jawa dan kepada teman-teman di luar Jawa, kalau saya sebut Jawa dalam kesempatan  ini jangan diartikan sebagai jawasentris. Jawi artinya Nusantara ini adalah nilai-nilai ketimuran ya . Artinya saya ambil dari filsafat timur khususnya Indonesia, khususnya Nusantara. Puncak capaian seorang pembatik adalah kalau kita pinjam dari istilah Peak of experience, itu puncaknya pengalaman membatik itu adalah ketika seorang pembatik menyatu dengan batiknya. Karena banyak sekali orang melihat, atau mengartikan batik dan kain batik itu sama. Maka saya sebutkan bahwa batik itu adalah sebuah nilai. Jadi seorang pelaku batik, tadi saya sebutkan “salaka yas luku suluk”, artinya orang yang melakukan perjalanan  salib perjalanan di batik yang disebut mas Afif tadi sebagai thoriqoh batik, itu sudah benar.

Jadi sebetulnya ini adalah perjalanan seorang pembatik menuju batiknya. Artinya ada kesatuan, dan ini adalah pengetahuan yang sudah tidak lagi berjarak. Seringkali orang memaknai atau bercerita batik itu ada tiga hal, yang saya sebut sebagai ilmu ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin. Ilmul yaqin itu artinya pengetahuan yang bersifat informasi, ainul yaqin juga masih masih juga informasi, sementara ainul yaqin itu artinya sudah berupa keyakinan, artinya sudah menjalani dan mengalami proses, baik secara syarat teknis maupun syarat-syarat nilai atau juga yang saya sebut sebagai DNA batik. Mohon teman-teman dari beberapa daerah ini saya tidak ingin mengatakan bahwa DNA batik berasal dari mana. Ini nilai-nilai, maka siapapun nanti yang mempunyai, atau menggendong, atau istilah tadi Mas Afif, orang yang memegang ketiga nilai tata nilai-nilai filsafat ini adalah orang yang mempunyai DNA batik. Jadi, inalilahiwainairojiun artinya adalah perjalanan manusia dari Tuhan dan akan kembali Tuhan, dan sekaligus Tuhan tidak iseng menjadikan kita pembatik. Kita punya tugas kehidupan. Maka dari itu temukanlah batikmu sebagaimana batik ini hadir di dirimu.

Banyak sekali orang-orang yang tidak mengenali batik, sehingga seringkali terjadi plagiat atau tiru meniru batik. Karena memang ini saya maknai sebagai orang yang belum mengenali tugasnya, mengenali kehidupannya di batik. Tapi bagi orang yang Man Arafa Nafsahu, Faqad Arafa Rabbahu, ini Hadits Qudsi, kalau saya analogikan, saya pinjam istilah ini dari Hadits Qudsi, sebetulnya orang yang mengenali mengenali dirinya adalah orang yang mengenali Tuhannya. Bagi saya, orang yang mengenali dirinya, potensinya, pasti dia mengenali batiknya. Maka setiap orang sebetulnya punya potensi untuk itu, ini berkaitan dengan karakter batik.

Kemudian yang kedua adalah Manunggaling kawulo Gusti, ini saya pinjam istilah dari falsafah Jawa artinya, jangan di mana Ih serem serem ya ini konteks profesional saja antara profesi dan yang digelutinya. Kalau dalam konteks negara tentunya ini adalah pemimpin dan rakyat. Seorang pemimpin harus menyatu dengan rakyat, artinya seorang pemimpin itu tugasnya mensejahterakan rakyat dan seorang rakyat tugasnya adalah patuh kepada pemimpin. Dalam konteks batik, tentunya seorang pembatik harus mencapai puncak pengetahuannya tadi dengan menyatu dengan karakternya, dengan nilai-nilai ini, supaya menemukan karakter batiknya. Dan yang ketiga adalah Memayu hayuning Bawono, memayu hayuning Bawono kalau saya artikan secara bebas ini adalah tugas manusia itu mempercantik kehidupan yang sudah cantik. Kita sebagai manusia ini diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang paling sempurna. Bahkan Tuhan sudah mengatakan, ini bukan kalimat saya “Wa nafakhtu fihi min ruhi Aku tiupkan ruhku dalam diri manusia. Sesungguhnya kita punya alam nasut, dan alam lahut. Kalau kita ingin alam lasut kita yang menonjol, maka pinggirkan alam kemanusiaan kita. Begitu pula dalam konteks batik. Kalau kita ingin batik kita yang menonjol, maka ego pribadi kita kita pikirkan supaya kita yang muncul. Ini kalau saya pinjam dari Al Mukarom Priok teori plotinus almukarom plotinus mengatakan bahwa pencapaian untuk sampai pada memayu hayuning Bawono ini melalui tiga Proses, yaitu purgativa, perenungan refleksi melalui jalur ilmu pengetahuan, refleksi ya, kalau nabi itu mengalami perenungan di gua hiro, mencari jalan keluar mencari pencerahan mukatsafah, musyahadah, dan makrifat. Kemudian yang kedua, ini adalah kontemplatif. Kontemplatif itu kontemplasi, artinya adalah kalau orang Jawa menyebutnya bersemedi atau bertapa. Dan yang ketiga adalah iluminatif. Ini al-mukarom beliau, fatwa nya plotinus yang kemudian Diteruskan oleh seorang Sufi seorang Tiran yang disebut Sukmawati artinya pencerahan ya, pencerahan kita mencapai puncak. Pencerahan pada batik ini ketika kita memegang nilai-nilai itu. Di Jawa sendiri, nilai-nilai ini dikemukakan oleh Beliau, pengageng ingkang sinuwun Panembahan Senopati kalau tidak salah, dan diwariskan kepada seluruh keturunannya di Yogyakarta. Yang artinya tadi bahwa manusia itu berasal dari Tuhan, kemudian tugasnya dalam menjalani tugas kehidupan, yaitu menghidupi kehidupan, yang ketiga adalah memayu mempercantik kehidupan yang sudah cantik. Jadi, DNA batik selain syarat-syarat teknis di Batik, maka ada syarat-syarat nilai yang harus dipunyai oleh seorang pembatik. Yaitu, ketika nilai itu, sehingga batik yang lahir betul-betul lahir, batik yang lahir dari hati, dari pencapaian perenungan sehingga merupakan sebuah mahakarya.  Pengetahuan batik itu sendiri dalam bahasa Kitab Suci disebut cahaya. Maka, kita kalau ingin bercahaya, mencahayai orang lain, maka kita harus bercahaya dulu, dan sumbernya cahaya adalah Tuhan. Tuhan itu sendiri bersifat Nurul Anwar, atau yang mencahayai. Dan kalau kita ingin mendapati cahaya Tuhan dalam kehidupan kita, sehingga kita bisa mencahayai, atau menginspirasi kehidupan ini kepada orang lain pada masyarakat, maka kita harus bercahaya lebih dahulu. Saya kira itu ketiga nilai-nilai yang disampaikan secara singkat, nanti bisa diperdalam sekaligus dikaji bersama-sama, bersama teman-teman. karena istilah-istilah yang saya ambil ini cukup jauh dari batik, tapi itulah realitanya bahwa perjalanan seseorang di batik harus sampai pada syarat-syarat teknis, yaitu definisi batik ya, kemudian juga syarat-syarat DNA. Jadi, kepada teman-teman Jangan menganggap bahwa DNA ini miliknya orang Jawa, miliknya orang Madura, miliknya orang Sumatera, atau siapapun. DNA yang saya maksud adalah nilai-nilai kehidupan tata kehidupan yang dimiliki oleh seorang batik, begitu pula seorang pecinta batik, seorang kolektor batik, seorang pecinta batik. Itu dulu nanti dalam konteksnya, konsepnya siang hari ini kita sinau bareng. Bukan saya mengguruib Iya Mas Apip yab ini sinau bareng, belajar bersama demikian bisa dilanjutkan oleh rekan kita yang terhormat drs. Sapuan, dan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dari teman-teman untuk penggalian lebih lanjut lagi.

Saya tambahkan sedikit dulu sebentar ya ini di belakang saya ini wayang, wayang beber. di belakang saya itu sebetulnya salah satu juga nilai tadi yang saya katakan ketika nilai yang masih erat sekali dengan pembicaraan kita hari ini, yaitu antara inalilahiwainairojiun, kemudian Manunggaling kawulo dan Gusti, dan memayu hayuning Bawono. 3 nilai inilah yang di dalam masyarakat Jawa, saya kira ini menjadi tugas kita, tugas seorang manusia, dari Kuncung sampai Gelung, dari mijil sampai Pucung, artinya dari lahir sampai kemudian dipocong dan kita meninggal. Dari dari dikuncung itu artinya di ikat kepalanya masih kecil, sampai digelung. itu nilai-nilai, dan saya kira sama ketika nilai ini ketika kita di gending ya, di gending karawitan jawa itu dari midil sampai pangkur, sampai kuncung. kemudian di dalam aspek UNESCO, tadi aspek pembuatan, dan penggunaan. Batik mempunyai aspek pembuatan dan penggunaan itu artinya apa, UNESCO hanya mengambil itu, tapi sebetulnya kita harus melampaui batik kita. tidak hanya secara tangible, tetapi secara intangible, secara nilai lebih dalam lagi. Sehingga apa yang diamanatkan UNESCO begitu sederhana, kita jauh lebih hebat dari apa yang diamanatkan oleh UNESCO. Bahwa kita sudah sampai pada nilai-nilai dalam yang kalau orang Bali disebut sebagai taksu. Ya, itulah tugas kita manusia mencapai. Ada tiga cara orang mencapai kepada Tuhan, melalui agama melalui religion, kemudian mencapainya dengan ilmu pengetahuan, dan yang ketiga melalui seni. Saya kira batik ini juga bisa dijadikan semacam thoriqoh, Kalau Mas sapuan tuh sering sekali sebut sebagai thoriqoh batikiyah, thoriqoh itu artinya Jalan. sebetulnya agama pun jalan menuju Tuhan, dan ilmu pengetahuan saya kira juga jalan menuju Tuhan. Kalau kita dengan pengetahuan, dengan agama, dan seni tidak sampai kepada Tuhan, Berarti ada yang keliru dalam keberagamaan kita, dan berilmu pengetahuan kit,a dan dalam berkesenian kita. Jadi, sesungguhnya manusia itu apa pun yang digelutinya, di profesinya harus sampai kepada Tuhan. itu makna filsafat Timur yang berbeda sekali dengan filsafat barat, yang berdasarkan pertumbuhan, atau kemajuan, atau kekayaan. Di Indonesia khususnya, di timur pada umumnya, bahwa kita menjalani kehidupan ini mencapai keseimbangan, atau Harmoni, karena alam semesta bukanlah sebagai objek, tetapi sebagai mitra dari subjek. Jadi kita tidak mengeksplorasi batik, tidak mengeksploitasi alam, mengeksploitasi batik tapi kita menjadikan batik sebagai jalan pengabdian. maka yang terakhir tadi selain pengetahuan, kecintaan, kesabaran, Keadilan, adalah pengabdian. Itu Saya kira mas Afif.

Terima kasih. Akhir kata Wasalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang di APPBI ada yang bisa kami bantu?

Salam Batik.
Budi Darmawan